Cari Blog Ini

Rabu, 16 Oktober 2013

striktur uretra

striktur uretra

BAB I
PENDAHULUAN

Urine di keluarkan melalui uretra. Uretra wanita jauh lebih pendek dari pada uretra pria hanya 4 cm panjangnya di bandingkan dengan panjang sekitar 20 cm pada pria. Perbedaan anatomis menyebabkan insiden infeksi saluran kemih asendens lebih tinggi pada wanita. dengan demikian hitung koloni yang lebih dari 100.000 sel bakteri permililiter urin di anggap bermakna patologis. Sfingter internal bagian atas di tempat keluar dari kandung kemih, terdiri atas otot polos dan dibawah pengendalian otonom. Sfingter eksternal adala otot rangka dan berada di bawah pengendalian folunter. Uretra pada pria memiliki fungsi ganda sebagai saluran untuk urin dan spermatozoa melalui koitus. 
Striktur urethra merupakan penyakit atau kelainan yang berupa penyempitan atau konstriksi dari lumen urethra akibat adanya obstruksi . Striktur urethra di sebut juga penyempitan akibat dari adanya pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut) pada urethra atau daerah urethra.












BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP MEDIS
A.    Pengertian
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan perut dan kontraksi.
Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra.
Striktur Uretra adalah Penyempitan atau penyumbatan dari lumen uretra sebagai akibat dari pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut) pada uretra dan/ atau pada daerah peri uretra. Striktur uretra menyebabkan gangguan dalam berkemih, mulai dari aliran berkemih yang mengecil sampai sama sekali tidak dapat mengalirkan urin keluar dari tubuh. Urin yang tidak dapat keluar dari tubuh dapat menyebabkan banyak komplikasi, dengan komplikasi terberat adalah gagal ginjal.

B.     Etiologi

Berdasarkan penyebab/etiologinya striktur dibagi menjadi 3 jenis :
1.      Striktur urethra kongenital
Striktur ini bisanya sering terjadi di fossa navikularis dan pars membranase, sifat striktur ini adalah stationer dan biasanya timbul terpisah atau bersamaan dengan anomalia sakuran kemih yang lain.
2.      Striktur urethra traumatik
Trauma ini akibat trauma sekunder seperti kecelakaan, atau karena instrumen, infeksi, spasmus otot, atau tekanan dari luar, atau tekanan oleh struktur sambungan atau oleh pertumbuhan tumor dari luar serta biasanya terjadi pada daerah kemaluan dapat menimbulkan ruftur urethra, Timbul striktur traumatik dalam waktu 1 bulan. Striktur akibat trauma lebih progresif daripada striktur akibat infeksi. Pada ruftur ini ditemukan adanya hematuria gross.


3.      Striktur akibat infeksi
Struktur ini biasanya sissebabkan oleh infeksi veneral. Timbulnya lebih lambat daripada striktur traumatik
.

C.    Patofisiologi

Struktur uretra terdiri dari lapisan mukosa dan lapisan submukosa. Lapisan mukosa pada uretra merupakan lanjutan dari mukosa buli-buli, ureter dan ginjal. Mukosanya terdiri dari epitel kolumnar, kecuali pada daerah dekat orifisium eksterna epitelnya skuamosa dan berlapis. Submukosanya terdiri dari lapisan erektil vaskular.
Apabila terjadi perlukaan pada uretra, maka akan terjadi penyembuhan cara epimorfosis, artinya jaringan yang rusak diganti oleh jaringan lain (jaringan ikat) yang tidak sama dengan semula.
Jaringan ikat ini menyebabkan hilangnya elastisitas dan memperkecil lumen uretra, sehingga terjadi striktur uretra.


















D.    Penyimpangan KDM
PENYIMPANGAN KDM
Trauma tidak lansung
(tekanan tumor
STRIKTUR URETRA
Trauma
lansung
infeksi
Kelainan kongenital
Kerusakan jaringan (lesi/luka)
Pembentukan jaringan fibrotik
Jaringan fibrotik menumpuk
Pembentukan jaringan sikatrik
Tekanan dr luar lumen uretra
  Struktur uretra
Inkontinensia
Situasi krisis (keterlibatan area uretra)
Risti difungsi seksual
Perubahan status kesehatan
Informasi adekuat
Kurang pengetahuan tentang kondisi
Urine tertampung pada vesica urinaria
Tekanan meningkat di vesica urinaria
Pancaran urine lemah
Trubulen menurun
Tindakan invasif
Peningkatan kontraksi dinding vesica urinaria & saluran uretra pd prox striktur
Risti inveksi
Meransang nosiseptor
Mengirim impuls
Serabut saraf aferen
Cornu dorsalis med. spinalis
Pelepasan neurotransmitter
Neuro traktus spinotalamus
Transmisi ke talamaus
Korteks serebri
persepsi
Nyeri
refluks
Hidrometer
Hidroneforesis
Penurunan fungsi ginjal
Perubahan eliminasi urine
 































E.     Gejala

Gejala dari striktur uretra yang khas adalah pancaran air seni kecil dan bercabang gejala yang lain iritasi dan infeksi seperti frekuensi, urgensi, disuria, kadang-kadang dengan infiltrat, abces dan fistel. Gejala lanjut adalah retensio urine.

F.     Komplikasi

1.      Infeksi saluran kemih.
2.      Gagal ginjal.
3.      Refluks vesio uretra.
4.      Retensi urine.

G.    Terapi

Pengobatan terhadap striktur uretra tergantung pada lokasi striktur, panjang/ pendeknya striktur, dan kedaruratannya. Striktur uretra dapat diobati dengan melakukan dilatasi uretra secara periodik. Dilatasi dilakukan dengan halus& hati-hati setiap 2-3 bulan. Namun teknik seperti ini cenderung menimbulkanstriktur uretra kembali.
Komplikasi striktur uretra yang ringan sangat rendah, sehingga pilihanterapi yang dapat diberikan ialah dengan dilatasi uretra atau uretrotomi internayang dilihat langsung. Pada psien tertentu dengan striktura pendek, makauretrotomi interna yang dilakukan dengan peralatan pemotong kecil, telahmemberikan hasil yang memuaskan. Bila diperlukan dilatasi secara sering, bilaada striktura panjang atau majemuk, bila dilatasi terlalu sulit atau bila strikturaterdapat pada anak, maka intervensi bedah terbuka dapat menjadi indikasi

Beberapa pilihan terapi yang dapat dilakukan antara lain:
1.      Dilatasi, balon kateter atau dialtor (plastik atau metal) dimasukkan kedalam uretra untuk membuka daerah yang menyempit.
2.      Obturation, benda yang kecil, elastis, pipa plastik dimasukkan dandiposisikan pada daerah striktur.
3.      Uretrotomi (Endoscopic internal urethrotomy or incision), teknik bedahdengan derajat invasif yang minim, dimana dilakukan tindakan insisi pada jaringan radang untuk membuka striktur. Tindakan ini dikerjakan denganmenggunakan kamera fiberoptik dibawah pengaruh anastesi.
4.      Uretroplasti atau rekonstruksi uretra terbuka, ada dua jenis uretroplasti yaitu uretroplasti anastomosis (daerah yang menyempit dibedah lalu uretradiperbaiki dengan mencangkok jaringan atau flap dari jaringan disekitarnya) & uretroplasti subsitusi (mencangkok jaringan striktur yangdibedah dengan jaringan mukosa bibir/Buccal Mucosa Graft jaringankelamin, atau jaringan preputium/Vascularized preputial or genital skin flaps).
5.      Prosedur rekonstruksi multipel (perineal urethrostomy), tindakan bedah dengan membuat saluran uretra di perineum (ruang antara anus danskrotum).

Penggunaan antibiotik diindikasikan pada pasien yang memiliki infeksisaluran kemih. Antibiotik yang diberikan disesuaikan dengan hasil tes kepekaan.Jika hasil tes kepekaan steril, maka antibiotik dapat diindikasikan atas profilaksisseperti ampisilin atau sefalosporin generasi ke I atau aminoglikosida (gentamisin,ibramisin)

H.    Manifestasi Klinik

1.      Kekuatan pancaran dan jumlah urin  berkurang
2.      Gejala infeksi
3.      Retensi urinarius
4.      Adanya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan pielonefritis
Derajat penyempitan uretra:
1.      Ringan: jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen.
2.      Sedang: oklusi 1/3 s.d 1/2 diameter lumen uretra.
3.      Berat: oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra.
Ada derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.

I.       Penatalaksanaan

1.      Filiform bougies untuk membuka jalan jika striktur menghambat pemasangan kateter
2.      Medika mentosa
Ø  Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri.
Ø  Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi.
3.      Pembedahan
Ø  Sistostomi suprapubis
Ø  Businasi ( dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati.
Ø  Uretrotomi interna : memotong jaringan sikatrik uretra dengan pisau otis/sachse. Otis dimasukkan secara blind ke dalam buli–buli jika striktur belum total. Jika lebih berat dengan pisau sachse secara visual.
Ø  Uretritimi eksterna: tondakan operasi terbuka berupa pemotonganjaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis diantara jaringan uretra yang masih baik.
4.      Pencegahan
Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral dengan tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat uretral termasuk kateter.

J.      Pemeriksaan Penunjang

1.      Urinalisis: warna kuning, coklat gelap, merah gelap/terang, penampilan keruh, pH : 7 atau lebih besar, bakteria.
2.      Kultur urin: adanya staphylokokus aureus. Proteus, klebsiella, pseudomonas, e. coli.
3.      BUN/kreatin: meningkat
4.      Uretrografi: adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk mengetahui panjangnya penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto) uretrografi.
5.      Uroflowmetri: untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi
6.      Uretroskopi: Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra










KONSEP KEPERAWATAN

A.    Pengkajian

1.      Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD ( efek pembesaran ginjal)
2.      Eliminasi
Gejala: penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih
Tanda: adanya masa/sumbatan pada uretra
3.      Makanan dan cairan
Gejala; anoreksia;mual muntah, penurunan berat badan
4.      Nyeri/kenyamanan
Nyeri suprapubik

B.     Diagnosa

Diagnosa keperawatan pada pasien striktur uretra post op adalah sebagai berikut :
1.      Gangguan pola eliminasi BAK berhubungan dengan post op cystostomi.
2.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan post op cystostomi.
3.      Resiko volume cairan berlebih berhubungan dengan larutan irigasi kandung kemih diabsorbsi.
4.      Resiko infeksi, hemoragi berhubungan dengan pembedahan.
5.      Inkontinen, stress atau mendesak berhubungan dengan pengangkatan kateter setelah bedah.
6.      Resiko disfungsi seksual berhubungan dengan penyakitnya (striktur).
7.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, salah interpretasi informasi.

C.    Intervensi

1.      Gangguan pola eliminasi BAK berhubungan dengan post op cystostomi.
Tujuan: Tidak terjadi gangguan pola eliminasi BAK
Intervensi keperawatan:
a.       Pemantauan output urine dan karateristik.
Rasional : Mendeteksi gangguan pola eliminasi BAK secara dini.
b.      Mempertahankan irigasi kemih yang konstan selama 24 jam.
Rasional : Mencegah bekuan darah menyumbat aliran urine.
c.       Mempertahankan kepatenan dauer kateter dengan irigasi.
Rasional : Mencegah bekuan darah menyumbat kateter.
d.      Mengusahakan intake cairan (2500 – 3000).
Rasional : Melancarkan aliran urine.
e.       Setelah kateter diangkat, terus memantau gejala-gejala gangguan pola eliminasi BAK
Rasional : Mendeteksi dini gangguan pola eliminasi BAK.

2.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan post op cystostomi.
Tujuan: Pasien mengatakan perasaannya lebih nyaman.
Intervensi keperawatan:
a.       Penyuluhan kepada pasien agar tidak berkemih ke seputar kateter.
Rasional : Mengurangi kemungkinan spasmus.
b.      Pemantauan pasien pada interval yang teratur selama 24 jam, untuk mengenal gejala-gejala dini spasmus kandung kemih.
Rasional : Menentukan terdapatnya spasmus kandung kemih sehingga obat-obatan bisa diberikan.
c.       Memberikan obat-obatan yang dipesankan (analgetik, antispasmodik).
Rasional : Gejala menghilang.
d.      Katakan pada pasien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 jam sampai 28 jam.
Rasional : Memberitahu pasien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer.

3.      Resiko volume cairan berlebihan berhubungan dengan larutan irigasi kandung kemih diabsorbsi.
Tujuan: Gejala – gejala dini intoksikasi air secara dini dikenal.
Intervensi keperawatan:
a.       Pemantauan pasien mengenai gejala-gejala keracunan air dalam 24 jam pertama : bingung, agitasi, kulit hangat, lembab, anoreksia, mual dan muntah.
Rasional : Deteksi dini kemungkinan pengobatan dini.


4.      Resiko infeksi, hemoragi dengan pembedahan.
Tujuan: Tidak terjadi infeksi, perdarahan minim.
Intervensi keperawatan
a.       Pemantauan tanda-tanda vital, melaporkan gejala-gejala shock dan demam.
Rasional : Mencegah sebelum terjadi shock.
b.      Pemantauan warna urine darah merah segar bukan merah tua beberapa jam setelah bedah baru.
Rasional : Warna urine berubah dari merah segar menjadi merah tua pada hari ke 2 dan ke 3 setelah operasi.
c.       Penyuluhan kepada pasien agar mencegah manuver valsava.
Rasional : Dapat mengiritasi, perdarahan prostat pada periode dini pasca bedah akibat tekanan.
d.      Mencegah pemakaian termometer rectal, pemeriksaan rectal atau huknah sekurang-kurangnya 1 minggu.
Rasional : Dapat menimbulkan perdarahan.
e.       Mempertahankan teknik aseptik dari sistem drainase urine, irigasi bila perlu saja.
Rasional : Meminimalkan resiko masuknya kuman yang bisa menyebabkan infeksi.
f.       Mengusahakan intake yang banyak.
Rasional : Dapat menurunkan resiko infeksi.


5.      Inkontinen, stress atau mendesak berhubungan dengan pengangkatan kateter setelah bedah.
Tujuan: Pasien dapat mengendalikan berkemih.
Intervensi keperawatan:
a.       Pengkajian terjadi tetesan urine setelah kateter diangkat.
Rasional : Mendeteksi kontinen.
b.      Katakan kepada pasien bahwa itu biasa dan kontinen akan pulih.
Rasional : Pasien harus dibesarkan harapannya bahwa ia itu normal.
c.       Penyuluhan latihan-latihan perineal.
Rasional : Bantuan untuk mengendalikan kandung kemih.



6.      Resiko disfungsi seksual berhubungan dengan penyakitnya (striktur).
Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan.
Intervensi keperawatan:
a.       Memberi intervensi kepada pasien bahwa dalam berhubungan seksual, pengeluaran sperma akan melalui lumen buatan..
Rasional : Klien mengatakan perubahan fungsi seksual.
b.      Memberikan informasi menurut kebutuhan. Kemungkinan kembali tingkat fungsi seperti semula. Kejadian ejakulasi retrograde (air kemih seperti susu). Mencegah hubungan seksual 3 sampai 4 minggu setelah operasi.
Rasional : Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas, dan berdampak disfungsi seksual.

7.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, salah interpretasi informasi
Tujuan: Pasien menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat jalan.
Intervensi keperawatan
a.       Penyuluhan kepada pasien. Mencegah aktivitas berat 3 sampai 4 minggu setelah operasi.
Rasional : Dapat menimbulkan perdarahan.
b.      Mencegah mengedan waktu BAB selama 4 sampai 6 minggu, memakai pelunak tinja laksatif sesuai kebutuhan.
Rasional : Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan untuk mengedan waktu BAB
c.       Anjurkan minum sekurang-kurangnya 2500 sampai 3000 ml/hari.
Rasional : Dengan pemberian minum yang banyak maka klien akan BAK dan tidak terjadi penyumbatan.

D.    Implementasi

Pelaksanaan adalah perwujudan dari rencana keperawatan yang meliputi tindakan-tindakan yang direncanakan oleh perawat. Dalam melaksanakan proses keperawatan harus kerjasama dengan tim kesehatan-kesehatan yang lain keluarga klien dan dengan klien sendiri, yang meliputi 3 hal : Melaksanakan tindakan keperawatan dengan memperhatikan kode etik dengan standar praktek dan sumber-sumber yang ada. Mengidentifikasi respon klien. Mendokumentasikan/mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan dan respon pasien. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan : Kebutuhan klien. Dasar dari tindakan. Kemampuan perseorangan dan keahlian/keterampilan dari perawat. Sumber-sumber dari keluarga dan klien sendiri. Sumber-sumber dari instansi.

E.     Evaluasi

Evaluasi adalah merupakan pengukuran dari keberhasilan rencana keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien. Tahap evaluasi merupakan kunci keberhasilan dalam menggunakan proses keperawatan. Adapun evaluasi klien dengan post op striktur uretra yang dipasangi kateter tetap dilakukan berdasarkan kriteria tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dan asuhan keperawatan dikatakan berhasil apabila dalam evaluasi terlihat pencapaian kriteria tujuan perawatan yang diberikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar