Cari Blog Ini

Senin, 16 November 2015

ASKEP KATARAK



KATARAK

A.    PENGERTIAN
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jerih dan lensa yang berkabut atau opak.
Katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah gambaran yang diproyeksikan pada retina.
Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa dan denaturasi protein.
Katarak adalah suatu keadaan dimana lensa mata yang biasanya jernih dan bening menjadi keruh


B.     ANATOMI DAN FISIOLOGI

Mata adalah organ penglihatan.Saraf optikus atau urat saraf kranial kedua adalah saraf sensorik untuk penglihatan.Saraf ini timbul dari sel-sel ganglion dalam retina yang bergabung membentuk saraf optikus.Saraf ini bergerak ke belakang secara medial dan melintasi kanalis optikus memasuki rongga kranium, lantas menuju kiasma optikum.Saraf penglihatan memiliki 3 pembungkus yang serupa dengan meningen otak.Lapisan luarnya kuat dan fibrus serta bergabung dengan skelera. Lapisan tengah halus seperti araknoid, sementara lapisan dalam adalah vakuler ( mengandung banyak pembuluh darah).
Bagian - bagian biji mata mulai dari depan hingga belakang  :
1.        Kornea, merupakan bagian depan yang transparan dan bersambung dengan skelera yang putih dan tidak tembus cahaya, kornea terdiri atas berberapa lapisan. Lapisan tepi adalah epitelium berlapis yang bersambung dengan konjungtiva.
2.        Bilik anterior ( kamera okuli anterior),yang terletak antara kornea dan iris.
3.        Iris adalah tirai berwarna di depan lensa yang bersambung dengan selaput koroid. Iris berisi 2 kelopak serabut otot tak sadar atau otot polos-kelompok yang satu mengecilkan ukuran pupil, sementara kelompok yang lain melebarkan ukuran pupil itu.
4.        Pupil, bintik tengah yang berwarna hitam, yang merupakan celah dalam iris, tempat cahaya yang masuk guna mencapai retina.
5.        Bilik posterior( kamera okuli posterior) terletak di antara iris dan lensa. Bilik kanan. Baik bilik anterior maupun bilik anterior maupun bilik posterior diisi dengan akueus humor.
6.        Akueus humor. Cairan ini berasal dari korpus siliare dan diserap kembali ke dalam aliran darah pada sudut antara iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai saluran schlemm.
7.        Lensa adalah sebuah benda transparan bikonveks(cembung depan belakang) yang terdiri atas berberapa lapisan. Lensa terletak peris di belakang iris. Membran yang dikenal sebagai ligamentum suspesorium terdapat di depan maupun dibelakang lensa itu, yang berfungsi mengaitkan lensa itu pada korpus siliare. Bila legamentum suspensorium mengendur, lensa mengerut dan menebal, sebaliknya bila ligamen mengendurnya lensa dikendalikan kontraksi otot siliare.
8.        Vitreus humor. Darah sebelah belakang biji mata, mulai dari lensa hingga retina, diisi cairan penuh albumen berwarna keputih-putihan seprti agar-agar yaitu vitreus humor. Vitreus humor berfungsi memberi bentuk dan kekokohan pada mata, serta mempertahankan hubungan antara retina dan selaput koroid dan sklerotik

C.    KLASIFIKASI
Berdasarkan  Penyebabnya :
1.        Katarak traumatic
Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh trauma benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata.Peluru senapan angin dan petasan merupakan penyebab yang sering.Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus dan kadang-kadang vitreus masuk ke dalam struktur lensa.
2.        Katarak toksika
Kortikosteroid yang diberikan dalam waktu lama baik secara sistemik maupun dalam bentuk obat tetes mata dapat meneyebabkan kekeruhan lensa. Obat-obat lain yang diduga menyebabkan katarak antara lain : phenotiazine, chlorpromazine, obat tetes miotik kuat seperti phospholine iodine.
3.        Katarak komplikata
Katarak dapat terbentuk akibat efek langsung penyakit intraocular yang mempengaruhi fisiologis lensa.Katarak biasanya berawal dari daerah subkapsular posterior dan akhirnya mengenai seluruh struktur lensa. Penyakit intraokuler yang sering berkaitan antara lain uveitis kronik atau rekuren, glaucoma, retinitis pigmentosa dan ablation retinae. Katarak ini biasanya unilateral.Katarak komplikata juga dapat disebabkan akibat gangguan sistemik seperti diabetes mellitus, distrofi miotonik, dermatitis atopic, hipoparatiroidisme, galaktosemia dan sindrom Lowe, Werner dan down.

Berdasarkan Usia:
1.        Katarak kongenital : Katarak yang sudah terlihat pada usia kurang dari 1 tahun
2.        Katarak juvenile : Katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
3.        Katarak senile : Katarak setelah usia 50 tahun


D.    ETIOLOGI
Penyebab katarak meliputi:
1.        Degeneratif ( ketuaan), biasanya dijumpai pada katarak senilis dikarenakan proses degenerasi atau kemunduran serat lensa karena proses penuaan dan kemungkinan besar menjadi menurun penglihatanya.
2.        Trauma, contohnya terjadi pada katarak traumatika, seperti trauma tembus pada mata yang disebabkan oleh benda tajam/ tumpul, radiasi( terpapar oleh sinar –X atau benda-benda radioaktif).
3.        Penyakit mata lain, seperti uveitis.
4.        Penyakit sistemik(diabetes militus), contohnya terjadi pada katarak diabetika dikarenakan gangguan metabolisme tubuh secara umum dan retina sehingga mengakibatkan kelainan retina dan pembuluh-pembuluh darahnya. Diabetes akan mengakibatkan kelainan dan kerusakan pada retina.
5.        Defek kongenital, salah satu kelainan heriditer sebagai akibat infeksi virus prenatal)dan katarak developmental terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan sebagai akibat dari defek kongenital. Kedua bentuk ini mungkin disebabkan oleh faktor herediter, toksis, nutrisional, atau proses peradangan.

E.     PATOFISIOLOGI
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih(bening), transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis.Pada zona sentral terdapat nukleus, di ferifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukeus mengalami perubahan warna menjadi cokelat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier ke daerah di luar lensa,misalnya,dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan menggangu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dan tidak ada pada pasien yang menderita katarak. Katarak biasanya terjadi bilateral, namun menpunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemis, seperti diabetes, namun sebenarnya merupakan proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika seseorang memasuki dekade ketujuh.Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasikan awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering menyebaban terjadinya katarak meliputi sinar UV B,obat-obatan,alkhol,merokok,diabetes,dan asupan vitamin antioksi dan yang kurang dalam waktu yang lama.

F.     MANIFESTASI KLINIS
Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
1.        Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
2.        Menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari
Gejala objektif biasanya meliputi:
1.        Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak      dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan           bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina.  Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
2.        Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih.
Gejala umum gangguan katarak meliputi: 
1.        Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
2.        Gangguan penglihatan bisa berupa:
a.       Peka terhadap sinar atau cahaya.
b.      Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
c.       Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
d.      Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
e.       Kesulitan melihat pada malam hari
f.       Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata
g.      Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )

G.    PEMERIKSAANDIAGNOSTIK
1.        Kartu mata snellen/mesin telebinokular (test ketajaman penglihatan dan sentral   penglihatan)
2.        Lapang penglihatan         
3.        Pengukuran tonografi
4.        Test provokatif
5.        Pemeriksaanoftalmoskopi
6.        Darah lengkap, laju sedimentasi (LED)
7.        Test toleransi glaukosa/ FBS

H.    KOMPLIKASI
Komplikasi yang terjadi dari penyakit katarak, yaitu :  nistagmus dan strabismus dan bila katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan menimbulkan komplikasi penyakit berupa glukoma dan uveitis.

I.       PENATALAKSANAAN
1.        Konserfatif
a.       Farmakoterapi
1)        Asetalozamid/ metazolamid yaitu bekerja menurunkan TIO misalnya midriasil.
2)        Obat – obat simtomatik berupa fenilefrin untuk vasokontriksi dan midriasis.
3)        Parasimpatolitik untuk menyebabkan paralisis dan menyebabkan otot siliaris tidak dapat menggerakan lensa.
b.      Non Farmakoterapi
1)      Pengguna kacamata untuk membantu penglihatan yang kurang
2)      Diit Lunak

KONSEP KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN
Riwayat
1.        Riwayat penyakit trauma : trauma mata, penggunaan obat kortikosteroid, penyakit diabetes mellitus, hipotiroid, uveitis, glaucoma.
2.        Riwayat keluhan gangguan : stadium katarak.
3.        Psikososial : kemampuan aktivitas, gangguan membaca, resiko jatuh, berkendaraan.
4.        Pengkajian umum
5.        Usia.
6.        Gejala penyakit sistemik : diabetes mellitus, hipotiroid.
7.        Pengkajian khusus mata
8.        Dengan pelebaran pupil, ditemukan gambaran kekeruhan lensa (berkas putih) pada lensa.
9.        Keluhan terdapat diplopia, pandangan berkabut.
10.    Penurunan tajam penglihatan (miopia).
11.    Bilik mata depan menyempit.
12.    Tanda glaucoma (akibat komplikasi)
.
B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.        Penurunan persepsi sensori : penglihatan yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan.
2.        Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian operasi.
3.        Resiko cedera yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intraocular (TIO), perdarahan, kehilangan vitreous
4.        Nyeri yang berhubungan dengan luka pasca operasi.
5.        Gangguan perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan penglihatan, pembatasan aktivitas pasca operasi.
6.        Resiko ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik yang berhubungan dengan kurang pengetahuan, kurang sumber pendukung.

C.    INTERVENSI
1.        Penurunan persepsi sensori : penglihatan yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan.
Tujuan     :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam              klien melaporkan atau memeragakan kemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang penglihatan dan mengkomunikasikan perubahan visual.
Kriteria hasil: Klien mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi    fungsi penglihatan.Klien mengidentifikasi dan menunjukan pola-pola alternative untuk meningkatkan penerimaan rangsang penglihatan.
Intervensi:
a.         Kaji ketajaman penglihatan klien.
R/ Mengidentifikasi kemampuan visual klien.
b.         Identifikasi alternative untuk optimalisasi sumber rangsangan.
R/ Memberikan keakuratan penglihatan dan perawatanya.
c.         Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi penglihatan :Orientasikan klien terhadap ruang rawat.Letakan alat yang sering digunakan di dekat klien atau pada sisi mata yang lebih sehat.Berikan pencahayaan cukup.
R/ Meningkatkan kemampuan persepsi sensori.

2.        Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian operasi.
Tujuan  : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam tidak terjadi kecemasan.
Kriteria hasil:Klien mengungkapkan kecemasan hilang atau minimal.Klien berpartisipasi dalam persiapan operasi.


Intervensi :
a.      Jelaskan gambaran kejadian pre dan paska operasi, manfaat operasi, dan sikap yang harus dilakukan klien selama masa operasi.
R/ Meningkatkan pemahaman tentang gambaran operasi untuk menurunkan ansietas.
b.      Jawab pertanyaan khusus tentang pembedahan.
R/ Meningkatkan kepercayaan dan kerjasama.
c.       Berikan waktu untuk mengekspresikan perasaan.
R/ Berbagi perasaan membantu menurunkan tegangan.
d.      Informasikan bahwa perbaikan penglihatan tidak terjadi secara langsung, tetapi bertahap sesuai penurunan bengkak pada mata dan perbaikan kornea
R/ Informasi tentang perbaikan penglihatan bertahap diperlukan untuk mengantisipasi depresi atau kekecewaan setelah fase operasi dan memberikan harapan akan hasil operasi.

3.        Resiko cedera yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intraocular (TIO), perdarahan, kehilangan vitreous.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam tidak terjadi cedera mata pasca operasi.
Kriteria hasil:Klien dapat menyebutkan faktor yang menyebabkan cedera.Klien tidak melakukan aktivitas yang meningkatkan resiko cedera.
Intervensi   :
a.      Diskusikan tentang rasa sakit, pembatasan aktifitas dan pembalutan mata.
R/ Meningkatkan kerjasama dan pembatasan yang diperlukan.
b.      Tempatkan klien pada tempat tidur yang rendah dan ajurkan untuk membatasi pergerakan mendadak atau tiba-tiba serta menggerakan kepala berlebih.
R/ Istirahat mutlak diberikan hanya beberapa menit hingga satu atau dua jam paska operasi atau satu malam jika ada komplikasi.
c.       Bantu aktifitas selama fase istirahat.
R/ Mencegah atau menurunkan resiko komplikasi cedera.
d.      Ajarkan klien untuk menghindari tindakan yang dapat menyebabkan cedera.
R/ Tindakan yang dapat meningkatkan TIO dan menimbulkan kerusakan struktur mata paska operasi:Mengejan (valsalva maneuver), Menggerakan kepala mendadak, Membungkuk terlalu lama, Batuk
e.       Amati kondisi mata : luka menonjol, bilik mata depan menonjol, nyeri mendadak setiap 6 jam pada awal operasi atau seperlunya.
R/ Berbagai kondisi seperti luka menonjol, bilik mata menonjol, nyeri mendadak, hyperemia serta hipopion mungkin menunjukan cedera mata paska operasi.Apabila pandangan melihat benda mengapung (floater) atau tempat gelap mungkin menujukan ablasio retina.

4.        Nyeri yang berhubungan dengan luka pasca operasi.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam     nyeri berkurang, hilang dan terkontrol.
Kriteria hasil: Klien mendemonstrasikan tehnik penurunan nyeri.Klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang.
Intervensi   :
a.      Kaji derajat nyeri setiap hari.
R/ Normalnya nyeri terjadi dalam waktu kurang dari lima hari setelah operasi dan berangsur menghilang. Nyeri dapat meningkat karena peningkatan TIO 2-3 hari paska operasi.Nyeri mendadak menunjukan peningkatan TIO massif.
b.      Anjurkan untuk melaporkan perkembangan nyeri setiap hari atau segera saat terjadi peningkatan nyeri mendadak
R/ Meningkatkan kolaborasi ; memberikan rasa aman untuk peningkatan dukungan psikologis.
c.       Anjurkan klien untuk tidak melakukan gerakan tiba-tiba yang dapat memprovokasi nyeri.
R/ Beberapa kegiatan klien dapat meningkatkan nyeri seperti gerakan tiba-tiba, membungkuk, mengucek mata, batuk, mengejan.
d.      Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.
R/ Menurunkan ketegangan, mengurangi nyeri.
e.       Lakukan tindakan kolaboratif untuk pemberian analgesic topical atau sistemik.
R/ Mengurangi nyeri dengan meningkatkan ambang nyeri.

5.        Gangguan perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan penglihatan, pembatasan aktivitas pasca operasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi.
Kriteria hasil :Klien mendapatkan bantuan parsial dalam pemenuhan kebutuhan diri.Klien memeragakan perilaku perawatan diri secara bertahap.
Intervensi   :
a.      Terangkan pentingnya perawatan diri dan pembatasan aktivitas selama fase paska operasi.
R/ Klien dianjurkan untuk istirahat di tempat tidur pada 2-3 jam pertama paska operasi atau 12 jam jika ada komplikasi. Selama fase ini, bantuan total diperlukan bagi klien.
b.      Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
R/ Memenuhi kebutuhan perawatan diri.
c.       Secara bertahap, libatkan klien dalam memenuhi kebutuhan diri.
R/  Upaya melibatkan klien dalam aktivitas perawatan dirinya dilakukan bertahap dengan berpedoman pada prinsip bahwa aktivitas tidak memicu peningkatan TIO dan menyebabkan cedera mata. Kontrol klinis dilakukan dengan menggunakan indicator nyeri mata pada saat melakukan aktivitas.Umumnya 24 jam paska operasi, individu boleh melakukan aktivitas perawatan diri.

6.        Resiko ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik yang berhubungan dengan kurang pengetahuan, kurang sumber pendukung.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam perawatan rumah berjalan efektif.
Kriteria hasil :Klien mampu mengidentifikasi kegiatan keperawatan rumah (lanjutan) yang diperlukan. Keluarga menyatakan siap untuk mendampingi klien dalam melakukan perawatan.
Intervensi   :
a.      Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang perawatan paska hospitalisasi.
R/ Sebagai modalitas dalam pemberian pendidikan kesehatan tentang perawatan di rumah.
b.      Terangkan aktivitas yang diperbolehkan dan dihindari (minimal untuk 1 minggu) untuk mencegah komplikasi post operasi.
R/ Aktivitas yang diperbolehkan :Menonton televise, membaca tetapi jangan terlalu lama.Mengerjakan aktivitas biasa (ringan dan sedang).Mandi waslap, selanjutnya dengan bak mandi atau pancuran (dengan bantuan).
c.       Terangkan berbagai kondisi yang perlu dikonsultasikan.
R/ Kondisi yang harus segera dilaporkan :Nyeri pada dan disekitar mata, sakit kepala menetap.Setiap nyeri yang tidak berkurang dengan obat pengurang nyeri.
d.      Terangkan cara penggunaan obat-obatan.
R/ Klien mungkin mendapatkan obat tetes atau salep(topical).
e.       Berikan kesempatan bertanya.
R/ Meningkatkan rasa percaya, rasa aman, dan mengeksplorasi pemahaman serta hal-hal yang mungkin belum dipahami.
f.        Tanyakan kesiapan klien paska hospitalisasi.
R/ Respon verbal untuk meyakinkan kesiapan klien dalam perawatan hospitalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Nursalam. 2007. Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktek, Ed. 2. Jakarta : Salemba Medika.

Price, Sylvia Anderson. 2005. Phathophysiologi Clinical Contect Of Disease Processe. Edisi 2.  (Peter Anugrah, penerjemah). Jakarta : EGC.

Ilyas Sidarta, dkk.(2008). Sari Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta

Pearce C, Evelyn.(2009).” Anatomi dan fisiologi”.Gramedia : Jakarta

Hardy J (2009) Supporting patients undergoing cataract extraction surgery.Nursing Standard. 24, 14, 51-56. Date of acceptance: September 11 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar