TRAUMA CAPITIS
A.
PENGERTIAN
Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit
kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara
langsung maupun tidak langsung pada kepala
B. KLASIFIKASI
Klasifikasi trauma kepala berdasarkan Nilai Skala Glasgow
(SKG):
1.
Ringan
a. SKG 13 – 15
b. Dapat terjadi kehilangan kesadaran
atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit.
c. Tidak ada kontusio tengkorak, tidak
ada fraktur cerebral, hematoma.
2.
Sedang
a. SKG 9 – 12
b. Kehilangan kesadaran dan atau
amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam.
c. Dapat mengalami fraktur tengkorak.
3.
Berat
a. SKG 3 – 8
b. Kehilangan kesadaran dan atau
terjadi amnesia lebih dari 24 jam.
c. Juga meliputi kontusio serebral,
laserasi, atau hematoma intrakranial.
C. ETIOLOGI
1.
Kecelakaan,
jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil.
2.
Kecelakaan
pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.
3.
Cedera
akibat kekerasan.
D. PATOFISIOLOGI
Otak dapat berfungsi dengan baik
bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan
didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak
mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun
sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan
oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %,
karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh
kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 %
akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia,
tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang
dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau
kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob.
Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik.
Dalam keadaan normal cerebral blood
flow (CBF) adalah 50 - 60 ml / menit / 100 gr. Jaringan otak, yang merupakan 15
% dari cardiac output.
Trauma
kepala meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas
atypical-myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom
pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia,
fibrilasi atrium dan vebtrikel, takikardia.
Akibat
adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan
tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi .
Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan
arteriol otak tidak begitu besar.
Cedera
kepala menurut patofisiologi dibagi menjadi dua :
1.
Cedera
kepala primer
Akibat
langsung pada mekanisme dinamik (acelerasi - decelerasi rotasi ) yang
menyebabkan gangguan pada jaringan.
Pada
cedera primer dapat terjadi :
a. Gegar kepala ringan
b. Memar otak
c. Laserasi
2.
Cedera
kepala sekunder
Pada
cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti :
a. Hipotensi sistemik
b. Hipoksia
c. Hiperkapnea
d. Udema otak
e. Komplikasi pernapasan
f. Infeksi / komplikasi pada organ
tubuh yang lain
E. MANIFESTASI KLINIS
1.
Hilangnya
kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
2.
Kebungungan
3.
Iritabel
4.
Pucat
5.
Mual
dan muntah
6.
Pusing
kepala
7.
Terdapat
hematoma
8.
Kecemasan
9.
Sukar
untuk dibangunkan
10. Bila fraktur, mungkin adanya ciran
serebrospinal yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila
fraktur tulang temporal.
F. KOMPLIKASI
1.
Hemorrhagie
2.
Infeksi
3.
Edema
4.
Herniasi
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
CT-Scan
(dengan atau tanpa kontras) :
Mengidentifikasi
luasnya lesi, perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak.
Catatan : Untuk mengetahui adanya infark / iskemia jangan dilekukan pada 24 -
72 jam setelah injuri.
2.
MRI
Digunakan
sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
3.
Cerebral
Angiography
Menunjukan
anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi
udema, perdarahan dan trauma.
4.
Serial
EEG
Dapat
melihat perkembangan gelombang yang patologis
5.
X-Ray
Mendeteksi
perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur
garis(perdarahan/edema), fragmen tulang.
6.
BAER
Mengoreksi
batas fungsi corteks dan otak kecil
7.
PET
Mendeteksi
perubahan aktivitas metabolisme otak
8.
CSF,
Lumbal
PunksiDapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid.
9.
ABGs
Mendeteksi
keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenisasi) jika terjadi
peningkatan tekanan intracranial.
10. Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi
keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrkranial.
11. Screen Toxicologi: Untuk mendeteksi
pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran.
H. PENATALAKSANAAN
Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien dengan trauma
kepala adalah sebagai berikut:
1.
Observasi
24 jam
2.
Jika
pasien masih muntah sementara dipuasakan terlebih dahulu.
3.
Berikan
terapi intravena bila ada indikasi.
4.
Anak
diistirahatkan atau tirah baring.
5.
Profilaksis
diberikan bila ada indikasi.
6.
Pemberian
obat-obat untuk vaskulasisasi.
7.
Pemberian
obat-obat analgetik.
8.
Pembedahan
bila ada indikasi.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1.
Riwayat
kesehatan: waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status
kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian.
2.
Pemeriksaan
fisik
3.
Sistem
respirasi : suara nafas, pola nafas (kusmaull, cheyene stokes, biot,
hiperventilasi, ataksik)
4.
Kardiovaskuler
: pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK
5.
Sistem
saraf :
a.
Kesadaran
à GCS.
b.
Fungsi
saraf kranial à trauma yang mengenai/meluas ke batang otak akan melibatkan
penurunan fungsi saraf kranial.
c.
Fungsi
sensori-motor à adakah kelumpuhan, rasa baal, nyeri, gangguan diskriminasi
suhu, anestesi, hipestesia, hiperalgesia, riwayat kejang
6.
Sistem
pencernaan
7.
Bagaimana
sensori adanya makanan di mulut, refleks menelan, kemampuan mengunyah, adanya
refleks batuk, mudah tersedak. Jika pasien sadar à tanyakan pola makan?
8.
Waspadai
fungsi ADH, aldosteron : retensi natrium dan cairan.
9.
Retensi
urine, konstipasi, inkontinensia.
10.
Kemampuan
bergerak : kerusakan area motorik à hemiparesis/plegia, gangguan gerak
volunter, ROM, kekuatan otot.
11.
Kemampuan
komunikasi : kerusakan pada hemisfer dominan à disfagia atau afasia akibat
kerusakan saraf hipoglosus dan saraf fasialis.
12.
Psikososial
à data ini penting untuk mengetahui dukungan yang didapat pasien dari keluarga.
B. Diagnosa
danIntervensi
|
Diagnosa
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Gangguan pola nafas b/ d obstruksi
trakeobronkial, neurovaskuler, kerusakan medula oblongata.
|
Tidak terjadi gangguan pola nafas setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam dengan KH :
o Memperlihatkan pola nafas normal/
efektif, bebas sianosis dengan GDA dalam batas normal pasien.
|
1. Pantau frekuensi, irama, kedalaman
pernafasan. Catat ketidakteraturan pernafasan.
2. Angkat kepala tempat tidur sesuai
aturan posisi miring sesuai indikasi.
3. Anjurkan pasien untuk latihan
nafas dalam yang efektif jika pasien sadar.
4. Auskultasi suara nafas. Perhatikan
daerah hipoventilasi dan adanya suara- suara tambahan yang tidak normal.
(krekels, ronki dan whiszing).
5. Kolaborasi untuk pemeriksaan AGD,
tekanan oksimetri.Berikan oksiegen sesuai indikasi.
|
Perubahan
dapat menunjukan komplikasi pulmonal atau menandakan lokasi/ luasnya
keterlibatan otak. Pernafasan lambat, periode apneu dapat menendakan perlunya
ventilasi mekanis.
Untuk
memudahkan ekspansi paru dan menjegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas.
·
Mencegah/ menurunkan atelektasis.
Untuk
mengidentifikasi adanya masalah paru seperti atelektasis, kongesti atau
obstruksi jalan nafas yang membahayakan oksigenasi serebral atau menandakan
adanya infeksi paru (umumnya merupakan komplikasi pada cidera kepala).
Menentukan
kecukupan oksigen, keseimbangan asam-basa dan kebutuhan akan terapi.
Mencegah
hipoksia, jika pusat pernafasan tertekan. Biasanya dengan mnggunakan
ventilator mekanis
|
|
Gangguan perfusi jaringan b/ d oedema
cerebri, meningkatnya aliran darah ke otak.
|
Gangguan perfusi jaringan tidak dapat diatasi
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam dengan KH :
o Mampu mempertahankan tingkat
kesadaran
o Fungsi sensori dan motorik membaik.
|
1. Pantau status neurologis secara
teratur
2. Evaluasi kemampuan membuka mata
(spontan, rangsang nyeri).
3. Kaji respon motorik terhadap
perintah yang sederhana.
4. Pantau TTV dan catat hasilnya.
5. Anjurkan orang terdekat untuk
berbicara dengan klien
6. Kolaborasi pemberian cairan sesuai
indikasi melalui IV dengan alat kontrol
|
Mengkaji
adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan
bermanfaat dalam menentukan lokasi, perluasan dan perkembangan kerusakan SSP
Menentukan
tingkat kesadaran
Mengukur
kesadaran secara keseluruhan dan kemampuan untuk berespon pada rangsangan
eksternal.
Dikatakan
sadar bila pasien mampu meremas atau melepas tangan pemeriksan
Peningkatan
tekanan darah sistemik yang diikuti dengan penurunan tekanan darah diastolik
merupakan tanda peningkatan TIK .
Peningkatan
ritme dan disritmia merupakan tanda adanya depresi atau trauma batang otak
pada pasien yang tidak mempunyai kelainan jantung sebelumnya.
Nafas
yang tidak teratur menunjukan adanya peningkatan TIK
Ungkapan
keluarga yang menyenangkan klien tampak mempunyai efek relaksasi pada
beberapa klien koma yang akan menurunkan TIK
·
Pembatasan cairan diperlukan untuk
menurunkan Oedema cerebral: meminimalkan fluktuasi aliran vaskuler, tekanan
darah (TD) dan TIK
|
|
3.Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
b/ d haluaran urine dan elektrolit meningkat.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3 x 24 jam ganguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat teratasi dengan
KH :
o Menunjukan membran mukosa lembab,
tanda vital normal haluaran urine adekuat dan bebas oedema.
|
1. Kaji tanda klinis dehidrasi atau
kelebihan cairan.
2. Catat masukan dan haluaran, hitung
keseimbangan cairan, ukur berat jenis urine.
3. Berikan air tambahan/ bilas selang
sesuai indikasi
4. Kolaborasi pemeriksaan lab.
kalium/fosfor serum, Ht dan albumin serum.
|
1. Deteksi dini dan intervensi dapat
mencegah kekurangan / kelebihan fluktuasi keseimbangan cairan.
2. Kehilangan urinarius dapat
menunjukan terjadinya dehidrasi dan berat jenis urine adalah indikator
hidrasi dan fungsi renal
3.Dengan
formula kalori lebih tinggi, tambahan air diperlukan untuk mencegah
dehidrasi.
4. Hipokalimia/ fofatemia dapat
terjadi karena perpindahan intraselluler selama pemberian makan awal dan
menurunkan fungsi jantung bila tidak diatasi.
|
|
4.Gangguan rasa nyaman nyeri b/ d peningkatan
tekanan intra kranial.
|
Rasa nyeri berkurang setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam dengan KH :
o pasien mengatakan nyeri berkurang.
o Pasien menunjukan skala nyeri pada
angka 3.
o Ekspresi wajah klien rileks.
|
1. Teliti keluhan nyeri, catat
intensitasnya, lokasinya dan lamanya.
2. Catat kemungkinan patofisiologi
yang khas, misalnya adanya infeksi, trauma servikal.
3. Beri kompres dingin pd kpla
|
1. Mengidentifikasi karakteristik
nyeri merupakan faktor yang penting untuk menentukan terapi yang cocok
serta.mengevaluasi keefektifan dari terapi.
2.Pemahaman
terhadap penyakit yang mendasarinya membantu dalam memilih intervensi yang
sesuai.
3. Meningkatkan rasa nyaman dengan
menurunkan vasodilatasi.
|
|
5.Perubahan persepsi sensori b/ d penurunan
kesadaran, peningkatan tekanan intra kranial.
|
Fungsi persepsi sensori kembali normal
setelah dilakukan perawatan selama 3x 24 jam dengan KH :
o mampu mengenali orang dan
lingkungan sekitar.
o Mengakui adanya perubahan dalam
kemampuannya.
|
1. Evaluasi secara teratur perubahan
orientasi, kemampuan berbicara, alam perasaan, sensori dan proses pikir.
2. Kaji kesadaran sensori dengan
sentuhan, panas/ dingin, benda tajam/ tumpul dan kesadaran terhadap gerakan.
3. Bicara dengan suara yang lembut
dan pelan. Gunakan kalimat pendek dan sederhana. Pertahankan kontak mata.
4. Berikan lingkungan tersetruktur
rapi, nyaman dan buat jadwal untuk klien jika mungkin dan tinjau kembali Gunakan
penerangan siang atau malam.
o Kolaborasi pdahlifisioterapi,
terapiokupasi, terapi wicara dan terapi kognitif.
|
1. Fungsi cerebral bagian atas
biasanya terpengaruh lebih dahulu oleh adanya gangguan sirkulasi, oksigenasi.
Perubahan persepsi sensori motorik dan kognitif mungkin akan berkembang dan
menetap dengan perbaikan respon secara bertahap
2.Semua sistem sensori dapat
terpengaruh dengan adanya perubahan yang melibatkan peningkatan atau
penurunan sensitivitas atau kehilangan sensasi untuk menerima dan berespon
sesuai dengan stimuli.
3. Pasien mungkin mengalami
keterbatasan perhatian atau pemahaman selama fase akut dan penyembuhan.
Dengan tindakan ini akan membantu pasien untuk memunculkan komunikasi.
4.Mengurangi kelelahan, kejenuhan
dan memberikan kesempatan untuk tidur REM (ketidakadaan tidur REM ini dapat
meningkatkan gangguan persepsi sensori).
·
Memberikan perasaan normal tentang
perubahan waktu dan pola tidur.
·
Pendekatan antar disiplin ilmu
dapat menciptakan rencana panatalaksanaan terintegrasi yang berfokus pada
masalah klien
|
|
6.Gangguan mobilitas fisik b/d spastisitas
kontraktur, kerusakan saraf motorik.
|
Pasien dapat melakukan mobilitas fisik
setelah mendapat perawatan dengan KH :
o tidak adanya kontraktur, footdrop.
o Ada peningkatan kekuatan dan
fungsi bagian tubuh yang sakit.
o Mampu mendemonstrasikan aktivitas
yang memungkinkan dilakukannya
|
o Periksa kembali kemampuan dan
keadaan secara fungsional pada kerusakan yang terjadi.
o Pertahankan kesejajaran tubuh
secara fungsional, seperti bokong, kaki, tangan. Pantau selama penempatan
alat atau tanda penekanan dari alat tersebut.
o Berikan/ bantu untuk latihan
rentang gerak
o Bantu pasien dalam program latihan
dan penggunaan alat mobilisasi. Tingkatkan aktivitas dan partisipasi dalam
merawat diri sendiri sesuai kemampuan.
|
·
Mengidentifikasi kerusakan secara
fungsional dan mempengaruhi pilihan intervensi yang akan dilakukan.
·
Penggunaan sepatu tenis hak tinggi
dapat membantu mencegah footdrop, penggunaan bantal, gulungan alas tidur dan
bantal pasir dapat membantu mencegah terjadinya abnormal pada bokong.
·
Mempertahankan mobilitas dan
fungsi sendi/ posisi normal ekstrimitas dan menurunkan terjadinya vena
statis.
·
Proses penyembuhan yang lambat
seringakli menyertai trauma kepala dan pemulihan fisik merupakan bagian yang
sangat penting. Keterlibatan pasien dalam program latihan sangat penting
untuk meningkatkan kerja sama atau keberhasilan program.
|
|
7.Resiko tinggi infeksi b/ d jaringan trauma,
kerusakan kulit kepala.
|
Tidak terjadi infeksi setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x 24 jam dengan KH :
o Bebas tanda- tanda infeksi
o Mencapai penyembuhan luka tepat
waktu
|
o Berikan perawatan aseptik dan
antiseptik, pertahankan teknik cuci tangan yang baik.
o Observasi daerah kulit yang
mengalami kerusakan, daerah yang terpasang alat invasi, catat karakteristik
drainase dan adanya inflamasi.
o Batasi pengunjung yang dapat
menularkan infeksi atau cegah pengunjung yang mengalami infeksi saluran nafas
atas.
o Kolaborasi pemberian atibiotik
sesuai indikasi.
|
·
Cara pertama untuk menghindari
nosokomial infeksi.
·
Deteksi dini perkembangan infeksi
memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan terhadap
komplikasi selanjutnya.
·
Menurunkan pemajanan terhadap
pembawa kuman infeksi.
·
Terapi profilaktik dapat digunakan
pada pasien yang mengalami trauma, kebocoran LCS atau setelah dilakukan
pembedahan untuk menurunkan resiko terjadinya infeksi nosokomial.
|
|
8.Gangguan kebutuhan nutrisi b/ d kelemahan
otot untuk menguyah dan menelan
|
Pasien tidak mengalami gangguan nutrisi
setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam dengan KH :
o Tidak mengalami tanda- tanda mal
nutrisi dengan nilai lab. Dalam rentang normal.
o Peningkatan berat badan sesuai
tujuan.
|
o Kaji kemampuan pasien untuk
mengunyah dan menelan, batuk dan mengatasi sekresi.
o Auskultasi bising usus, catat
adanya penurunan/ hilangnya atau suara hiperaktif.
o Jaga keamanan saat memberikan
makan pada pasien, seperti meninggikan kepala selama makan atatu selama
pemberian makan lewat NGT.
o Berikan makan dalam porsi kecil
dan sering dengan teratur.
o Kaji feses, cairan lambung, muntah
darah.
o Kolaborasi dengan ahli gizi.
|
·
Faktor ini menentukan terhadap
jenis makanan sehingga pasien harus terlindung dari aspirasi.
·
Fungsi bising usus pada umumnya
tetap baik pada kasus cidera kepala. Jadi bising usus membantu dalam
menentukan respon untuk makan atau berkembangnya komplikasi seperti paralitik
ileus.
·
Menurunkan regurgitasi dan
terjadinya aspirasi.
·
Meningkatkan proses pencernaan dan
toleransi pasien terhadap nutrisi yang diberikan dan dapat meningkatkan
kerjasama pasien saat makan.
·
Perdarahan subakut/ akut dapat
terjadi dan perlu intervensi dan metode alternatif pemberian makan
·
Metode yang efektif untuk
memberikan kebutuhan kalori.
|
DAFTAR PUSTAKA
Sylvia A Price, Lorraine M Wilson. 2006.Patofisiologi konsep klinis
proses-proses penyakit edisi 6 volume 2. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran
EGC.
Marilynn E. Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan pedomanuntuk perencanaan dan pendokumentasian pasien,
ed.3.EGC:Jakarta.
Smeltzer, S. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
Suddarth. Volume 3 Edisi 8. Jakarta : EGC. 2002.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar