Cari Blog Ini

Senin, 16 November 2015

ASKEP SINUSITIS


SINUSITIS
A.    PENGERTIAN

Sinusitis adalah suatu keradangan yang terjadi pada sinus. Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan olehkuman atau virus
Sinus sendiri adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. Fungsi dari rongga sinus adalah untuk menjaga kelembapan hidung & menjaga pertukaran udara di daerah hidung.
Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis, yaitu:
1.        Sinus Frontal, terletak di atas mata dibagian tengah dari masing-masing alis
2.        Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat disamping hidung
3.        Sinus Ethmoid, terletak diantara mata, tepat di belakang tulang hidung
4.        Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid & dibelakang mata

Didalamrongga sinus terdapatlapisan yang terdiridaribulu-buluhalus yang disebutdengancilia.Fungsi dari cilia ini adalah untuk mendorong lendir yang di produksi didalam sinus menuju ke saluran pernafasan. Gerakan cilia mendorong lendir ini berguna untuk membersihkan saluran nafas dari kotoran ataupun organisme yang mungkin ada. Ketika lapisan rongga sinus ini membengkak maka cairan lendir yang ada tidak dapat bergerak keluar & terperangkap di dalam rongga sinus.
Jadi sinusitis terjadi karena peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang menyebabkan lendir terperangkap di rongga sinus & menjadi tempat tumbuhnya bakteri
Sinusitis paling sering mngenai sinus maksila (Antrum Highmore), karena merupakan sinus paranasal yang terbesar, letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan cilia, dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila, ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat.

B.     KLASIFIKASI SINUSITIS
Sinusitis sendiri dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu
1.        Sinusitis akut : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlangsung selama 3 minggu.Macam-macam sinusitis akut : sinusitis maksila akut, sinusitis emtmoidal akut, sinus frontal akut, dan sinus sphenoid akut.
2.        Sinusitis kronis : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlangsung selama 3-8 minggu tetapi dapat juga berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

C.    ETIOLOGI SINUSITIS
Pada Sinusitis Akut, yaitu:
1.        Infeksi virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus).
2.        Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.
3.        Infeksi jamur
Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.
4.        Peradangan menahun pada saluran hidung
Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.
5.        Septum nasi yang bengkok
6.        Tonsilitis yg kronik
Pada Sinusitis Kronik, yaitu:
1.        Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
2.        Alergi
3.        Karies dentis ( gigi geraham atas )
4.        Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa.
5.        Benda asing di hidung dan sinus paranasal
6.        Tumor di hidung dan sinus paranasal.


D.    PATOFISIOLOGI 

Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut, akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang. Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.


E.     MANIFESTASI KLINIK
1.        Sinusitis maksila akut
Gejala : Demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat, nyeri pada pipi terutama sore hari, ingus mengalir ke nasofaring, kental kadang-kadang berbau dan bercampur darah.
2.        Sinusitis etmoid akut
Gejala : ingus kental di hidung dan nasafaring, nyeri di antara dua mata, dan pusing.
3.        Sinusitis frontal akut
Gejala : demam,sakit kepala yang hebat pada siang hari,tetapi berkurang setelah sore hari, ingus kental dan penciuman berkurang.
4.        Sinusitis sphenoid akut
Gejala : nyeri di bola mata, sakit kepala, ingus di nasofaring
5.        Sinusitis Kronis
Gejala : pilek yang sering kambuh, ingus kental dan kadang-kadang berbau,selalu terdapat ingus di tenggorok, terdapat gejala di organ lain misalnya rematik, nefritis, bronchitis, bronkiektasis, batuk kering, dan sering demam

F.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.        Rinoskopi anterior
Tampak mukosa konka hiperemis, kavum nasi sempit, dan edema.Pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior.
2.        Rinoskopi posterior : Tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).
3.        Dentogen : Caries gigi (PM1,PM2,M1)
4.        Transiluminasi (diaphanoscopia)
Sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan transiluminasi dibanding sisi yang normal.

5.        X Foto sinus paranasalis:
Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah Posisi Water’s, Posteroanterior dan Lateral. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit.
Water’s adalah untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak di bawah antrum maksila, yakni dengan cara menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Posisi ini terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid. Posisi Posteroanterior untuk menilai sinus frontal dan Posisi Lateral untuk menilai sinus frontal, sphenoid dan etmoid
6.        Pemeriksaan CT –Scan
Pemeriksaan CT-Scan merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan tampak : penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus kronik).

G.    PENATALAKSANAAN
1.        Drainage
a.       Dengan pemberian obat, yaitu
Dekongestan local : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak).
Dekongestan oral sedoefedrin 3 X 60 mg.
b.      Surgikal dengan irigasi sinus maksilaris.
2.        Pemberian antibiotik dalam 5-7 hari (untuk Sinusitis akut)
3.        Pemberian obat simtomatik.
Contohnya parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.
4.        Untuk Sinusitis kromis bisa dengan
a.       Cabut geraham atas bila penyebab dentogen
b.      Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20)
c.       Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi).

H.    KOMPLIKASI
1.        Kelainan pada Orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering. Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut, namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan infeksi isi orbita juga.
Pada komplikasi ini terdapat lima tahapan :
a.       Peradangan atau reaksi edema yang ringan.
Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini terutama ditemukan pada anak, karena lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus ethmoidalis sering kali merekah pada kelompok umur ini.
b.      Selulitis orbita
Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk.
c.       Abses subperiosteal
Pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita menyebabkan proptosis dan kemosis.
d.      Abses orbita
Pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih serius. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang makin bertambah.
e.       Thrombosis sinus kavemosus
Akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena kedalam sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik.




2.        Kelainan intracranial
a.       Meningitis akut
Salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut, infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan, seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau melalui lamina kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis.
b.      Abses dura
Kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium, sering kali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat, sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intra kranial.
c.       Abses subdural
Kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau permukaan otak. Gejala yang timbul sama dengan abses dura.
d.      Abses otak
Setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka dapat terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak.

3.        Osteitis dan Osteomylitis.
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala sistemik berupa malaise, demam dan menggigil.
4.        Mukokel
Suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus, kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya.
Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar dan melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat bermanifestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf didekatnya.

5.        Pyokokel.
Mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel meskipun lebih akut dan lebih berat.


KONSEP KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN
1.        Biodata :Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan.
2.        RiwayatPenyakitsekarang :bernafasmelaluimulut, kapan, onset, frekwensinya, riwayatpembedahanhidungatau trauma.
3.        Keluhanutama :penderitamengeluhnyerikepala sinus, malaise, dannyeritenggorokan.
4.        Riwayatpenyakitdahulu :Pasienpernahmenderitapenyakitakutdanperdarahanhidungatau trauma, Pernahmempunyairiwayatpenyakit THT, Pernahmenderitasakitgigigeraham
5.        Riwayatkeluarga :Adakahpenyakit yang dideritaolehanggotakeluargaklien yang mungkinadahubungannyadenganpenyakitkliensekarang.
6.        RiwayatPsikososial : Intrapersonal yaituperasaan yang dirasakanklien (cemas/sedih), interpersonal : hubungankliendengan orang lain sangatbaik.
7.        Polafungsikesehatan
a.       Polapersepsidantatalaksanaanhidupsehat :Untukmengurangi flu biasanyaklienmenkonsumsiobattanpamemperhatikanefeksamping.
b.      Polanutrisidanmetabolisme : biasanyanafsumakanklienberkurangkarenaterjadigangguanpadahidung
c.       Polaistirahatdantidur : selama di rumahsakitklienmerasatidakdapatistirahatkarenaklienseringpilek
d.      PolaPersepsidankonsepdiri : klienseringpilekterusmenerusdanberbaumenyebabkankonsepdirimenurun
e.       Polasensorik :dayapenciumanklienterganggukarenahidungbuntuakibatpilekterusmenerus (baikpurulen , serous, mukopurulen).
8.        Pemeriksaanfisik
a.       Status kesehatanumum :keadaanumum , tanda vital, kesadaran.
b.      Pemeriksaanfisik data fokushidung :nyeritekanpada sinus, rinoskopi (mukosamerahdanbengkak).

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.        Ketidakefektifanbersihanjalannafasberhubungandengandenganobstruksisekunderdariperadangan sinus.
2.        Nyeriberhubungandenganperadanganpada sinus.
3.        Perubahanpemenuhannutrisikurangdarikebutuhanberhubungandengannafusmakanmenurunsekunderdariperadangan sinus.
4.        Gangguanistirahattidurberhubungandenganhidungbuntu, nyerisekunderperadangan sinus.
5.        Cemasberhubungandengankurangnyapengetahuankliententangpenyakitdanprosedurtindakanmedis (operasi)

C.    RENCANA KEPERAWATAN
1.        Ketidakefektifanbersihanjalannafasberhubungandengandenganobstruksisekunderperadangan sinus.
Tujuan                  : Bersihanjalannafaskembaliefektif.
KriteriaHasil         : Jalannapaskembali normal terutamahidungdanklienbernapastidaklagimelaluimulut.
Intervensi:
a.      Kajipenumpukkansekret yang ada.
Rasional :Mengetahuitingkatkeparahandantindakanselanjutnya.
b.      Kajipasienuntukposisi semi fowler, misalnya :Peninggiankepalatempattidur, dudukpadasandarantempattidur.
Rasional :Peninggiankepalatempattidurmempermudahfungsipernapasandenganmenggunakangravitasi.
c.       Pertahankanposisilingkungan minimum, misalnyadebu, asapdanbulubantal yang berhubungandengankondisiindividu.
Rasional :Pencetustipereaksialergipernapasan yang dapatmentriger episode akut.
d.      Dorong/bantu latihannafas abdomen ataubibir.
Rasional :Memberikanpasienbeberapacarauntukmengatasidanmengontrolpernapasan.
2.        Nyeriberhubungandenganperadanganpadaluka operasi.
Tujuan                  : Nyeriberkurangatauhilang.
KriteriaHasil         : Klienmengungkapakannyeri yang dirasakanberkurangatauhilang, klientidakmenyeringaikesakitan
Intervensi:
a.      KajitingkatnyerikliendenganProvokatif, Quality, Region, Severity, Thine.
Rasional :Mengetahuitingkatnyerikliendalammenentukantindakanselanjutnya.
b.      Jelaskansebabdanakibatnyeripadakliensertakeluarganya.
Rasional :Denganmengetahuisebabdanakibatnyeridiharapkanklienberpartisipasidalamperawatanuntukmenguranginyeri.
c.       Ajarkantehnikrelaksasidandistraksi.
Rasional :Dengantehnikdistraksidanrelaksasikliendapatmempraktekkannyabilamengalaminyerisehingganyerinyadapatberkurang.
d.      Observasitandatanda vital dankeluhanklien.
Rasional :Mengetahuikeadaanumumdanperkembangankondisiklien.
e.       Kolaborasiuntukpenggunaananalgetik.
Rasional :Dapatmenguranginyeri.

3.        Perubahanpemenuhannutrisikurangdarikebutuhanberhubungandengannafusmakanmenurunsekunderdariperadangan sinus.
Tujuan                  : Kebutuhannutrisiterpenuhi.
Kriteriahasil          :Menunjukkanpeningkatanberatbadanmenujutujuan yang tepat. Menunjukkanperilaku/perubahanpolahidupuntukmeningkatkandan/ataumempertahankanberat yang tepat.
Intervensi:
a.      Kajikebiasaan diet, masukanmakanansaatini, catatkesulitanmakan, evaluasiberatbadandanukurantubuh.
Rasional :Untukmengetahuitingkatkesulitankliendantindakan yang harusdilakukan.
b.      Auskultasibunyiusus.
Rasional :Penurunanatauhipoaktifbisingususmenunjukkanpenurunanmobilitasgasterdankonstipasi (komplikasiumum) yang berhubungandenganpembatasanpemasukkancairan, pilihanmakananburuk, penurunanaktivitas, danhipoksemia.
c.       Beriperawatan oral sering, buangsekret, berikanwadahkhususuntuksekalipakaidantisu.
Rasional : Rasa takenak, baudanpenampilanadalahpencegahutamaterhadapnafsumakandandapatmembuatmualmuntahdenganpeningkatankesulitannafas.

4.        Gangguanistirahattidurberhubungandenganhiidungbuntu, nyerisekunderperadangan sinus.
Tujuan                  : Istirahattidurkembali normal.
KriteriaHasil         : Menyatakan pemahamanpenyebab/faktorresikoindividu dan Kliendapattidur 6 sampai 8 jam setiaphari.
Intervensi:
a.      Kajikebutuhantidurklien.
Rasional :Mengetahuipermasalahankliendalampemenuhankebutuhanistirahattidur.
b.      Ciptakansuasana yang nyaman.
Rasional : Agar kliendapattidurdengantenang
c.       Anjurkanklienbernafaslewatmulut.
Rasional :Pernafasantidakterganggu.
d.      Kolaborasidengantimmedispemberianobat.
Rasional :Pernapasandapatefektifkembalilewathidung.


5.        Cemasberhubungandengankurangnyapengetahuankliententangpenyakitdanprosedurtindakanmedis (operasi).
Tujuan                  : Cemasklienberkurang.
KriteriaHasil         : Klienakanmenggambarkantingkatkecemasandanpolakopingnyadanklienmengetahuidanmengertitentangpenyakit yang dideritanyasertapengobatannya.
Intervensi:
a.      Kajitingkatkecemasanklien.
Rasional :menentukantindakanberikutnya.
b.      Jelaskanataukuatkanpenjelasan proses penyakitindividu.
Rasional :Menurunkanansietasdandapatmenimbulkanperbaikanpartisipasipadarencanapengobatan.
c.       Diskusikanobatpernapasan, efeksampingdanreaksi yang tidakdiinginkan.
Rasional :Pasieniniseringmendapatobatpernapasanbanyaksekaligus yang mempunyaiefeksampinghampirsamadanpotensialinteraksiobat.
d.      Diskusikanfaktorindividu yang meningkatkondisi, misalnyaudaraterlalukering, angin, lingkungandengansuhuekstrim, serbuk, asap, sprei aerosol, danpolusiudara.
Rasional :Faktorlingkunganinidapatmenimbulkanataumeningkatkaniritasi.










DAFTAR PUSTAKA

Adams, George L, Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi 6, Buku Kedokteran EGC, jakarta : 1997

Broek, Van Den, Ilmu Kesehatan Tenggorok Hidung dan Telinga edisi 12, Buku kedokteran EGC, Jakarta : 2010

Lucente, Frank E, Ilmu THT, Buku kedokteran EGC, Jakarta : 2011
Mansoer, Arief. Kapita Selekta Kedokteran edisi III jilid I. Penerbit Media Aesculapius FK-UI. Jakarta : 2000

Soepardi, Efiaty Arsyad, Dkk. Buku Ajar Kesehatan Telinga Hidung tenggorok edisi VI. Balai penerbit FK-UI. Jakarta : 2010

Siegler, R Pracy, still, Buku Pelajaran ringkas Telinga Hidung dan Tenggorok, PT Gramedia, Jakarta : 1989

Samsudin, Sonny, Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok, Buku kedokteran EGC, Jakarta : 1993

1 komentar:

  1. Very good idea you've shared here, from here I can be a very valuable new experience. all things that are here will I make the source of reference, thank you friends.

    OBAT BATUK
    OBAT KOLESTEROL
    OBAT ASMA
    OBAT AMBEIEN

    BalasHapus