Cari Blog Ini

Senin, 16 November 2015

Gagal Jantung Kongestif / CHF




 KONSEP DASAR MEDIS CONGESTIVE HEART FAILURE
(GAGAL JANTUNG KONGESTIF)

A.      Definisi
Gagal jantung, sering disebut gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung  untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi. Istilah gagal jantung kongestif paling sering digunakan kalau terjadi gagal jantung sisi kiri dan sisi kanan. (Brunner & Suddarth, 2002)
Pada gagal jantung kiri, kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri karena ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari paru. Peningkatan tekanan dalam sirkulasi paru menyebabkan cairan terdorong ke jaringan paru.
Pada gagal jantung kanan (ventrikel kanan gagal), yang menonjol adalah kongesti visera dan jaringan perifer. Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak mampu mengosongkan volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara normal kembali dari sirkulasi vena. (Brunner & Suddarth, 2002)
B.       Etiologi
Gagal jantung kongestif dapat disebabkan oleh :
1.    Kelainan otot jantung. Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup ateriosklerosis koroner, hipertensi arterial, dan penyakit degeneratif atau inflamasi.
2.    Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung.
3.    Hipertensi sistemik atau pulmonal (peningkatan afterload) meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipetrofi serabut otot jantung. Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningktkan kontraktilitas jantung. Tetapi untuk alasan yang tidak jelas, hipertrofi otot jantung tadi tidak dapat berfungsi secara normal, dan akhirnya akan terjadi gagal jantung.
4.    Peradangan atau penyakit miokardium degeneratif berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
5.    Penyakit jantung lain. Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenranya tidak secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme yang biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah melalui jantung (mis: stenosis katup semiluner), ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah (mis: tampanode perikardium, perikarditis konstriktif, atau stenosis katup AV), atau pengosongan jantung abnormal (mis: insufisiensi katup AV). Peningkatan mendadak afterload akibat meningkatnya tekanan darah sistemik (hipertensi maligna) dapat menyebabkan gagal jantung meskipun tidak ada hipertrofi miokardial.
6.    Faktor sistemik. Terdapat sejumlah faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (mis: demam, tirotoksikosis), hipoksia, dan anemia memerlukan peningkatan curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik. Hipoksia atau anemia juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis (respiratorik atau metabolik) dan abnormalitas elektrolit dapat menurunkan kontraktillitas jantung. Distrima jantung yang dapat terjadi dengan sendirinya atau secara sekunder akibat gagal jantung menurunkan efisiensi keseluruhan fungsi jantung. (Brunner & Suddarth, 2002)
C.       Patofisiologi
Gagal jantung bukanlah suatu keadaan klinis yang hanya melibatkan satu sistem tubuh melainkan suatu sindroma klinik akibat kelainan jantung sehingga jantung tidak mampu memompa memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Gagal jantung ditandai dengan satu respon hemodinamik, ginjal, syaraf dan hormonal yang nyata serta suatu keadaan patologik berupa penurunan fungsi jantung. Salah satu respon hemodinamik yang tidak normal adalah peningkatan tekanan pengisian (filling pressure) dari jantung atau preload. Respon terhadap jantung menimbulkan beberapa mekanisme kompensasi yang bertujuan untuk meningkatkan volume darah, volume ruang jantung, tahanan pembuluh darah perifer dan hipertropi otot jantung. Kondisi ini juga menyebabkan aktivasi dari mekanisme kompensasi tubuh yang akut berupa penimbunan air dan garam oleh ginjal dan aktivasi system saraf adrenergik.
Penting dibedakan antara kemampuan jantung untuk memompa (pump function) dengan kontraktilias otot jantung (myocardial function). Pada beberapa keadaan ditemukan beban berlebihan sehingga timbul gagal jantung sebagai pompa tanpa terdapat depresi pada otot jantung intrinsik. Sebaliknya dapat pula terjadi depresi otot jantung intrinsik tetapi secara klinis tidak tampak tanda-tanda gagal jantung karena beban jantung yang ringan. Pada awal gagal jantung akibat CO yang rendah, di dalam tubuh terjadi peningkatan aktivitas saraf simpatis dan sistem renin angiotensin aldosteron, serta pelepasan arginin vasopressin yang kesemuanya merupakan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan tekanan darah yang adekuat. Penurunan kontraktilitas ventrikel akan diikuti penurunan curah jantung yang selanjutnya terjadi penurunan tekanan darah dan penurunan volume darah arteri yang efektif. Hal ini akan merangsang mekanisme kompensasi neurohumoral. Vasokonstriksi dan retensi air untuk sementara waktu akan meningkatkan tekanan darah sedangkan peningkatan preload akan meningkatkan kontraktilitas jantung melalui hukum Starling. Apabila keadaan ini tidak segera teratasi, peninggian afterload, peninggian preload dan hipertrofi dilatasi jantung akan lebih menambah beban jantung sehingga terjadi gagal jantung yang tidak terkompensasi. Dilatasi ventrikel menyebabkan disfungsi sistolik (penurunan fraksi ejeksi) dan retensi cairan meningkatkan volume ventrikel (dilatasi). Jantung yang berdilatasi tidak efisien secara mekanis (hukum Laplace). Jika persediaan energi terbatas (misal pada penyakit koroner) selanjutnya bisa menyebabkan gangguan kontraktilitas. Selain itu kekakuan ventrikel akan menyebabkan terjadinya disfungsi ventrikel. Pada gagal jantung kongestif terjadi stagnasi aliran darah, embolisasi sistemik dari trombus mural, dan disritmia ventrikel refrakter. Disamping itu keadaan penyakit jantung koroner sebagai salah satu etiologi CHF akan menurunkan aliran darah ke miokard yang akan menyebabkan iskemik miokard dengan komplikasi gangguan irama dan sistem konduksi kelistrikan jantung. Beberapa data menyebutkan bradiaritmia dan penurunan aktivitas listrik menunjukan peningkatan presentase kematian jantung mendadak, karena frekuensi takikardi ventrikel dan fibrilasi ventrikel menurun. WHO menyebutkan kematian jantung mendadak bisa terjadi akibat penurunan fungsi mekanis jantung, seperti penurunan aktivitas listrik, ataupun keadaan seperti emboli sistemik (emboli pulmo, jantung) dan keadaan yang telah disebutkan diatas.
Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan kemampuan kontraktilitas jantung, yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal. Konsep curah jantung paling baik dijelaskan dengan persamaan CO= HR X SV dimana curah jantung adalah fungsi frekuensi jantung X volume sekuncup.
Curah jantung yang berkurang mengakibatkan sistem saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah jantung, bila mekanisme kompensasi untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai, maka volume sekuncup jantunglah yang harus menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung. Tapi pada gagal jantung dengan masalah utama kerusakan dan kekakuan serabut otot jantung, volume sekuncup berkurang dan curah jantung normal masih dapat dipertahankan.
Volume sekuncup, jumlah darah yang dipompa pada setiap konstraksi tergantung pada tiga faktor yaitu:
1.      Preload: setara dengan isi diastolik akhir yaitu jumlah darah yang mengisi jantung berbanding langsung dengan tekanan yang ditimbulkan oleh panjangnya regangan serabut jantung.
2.       Kontraktilitas: mengacu pada perubahan kekuatan kontraksi yang terjadi pada tingkat sel dan berhubungan dengan perubahan panjang serabut jantung dan kadar kalsium.
3.      Afterload: mengacu pada besarnya ventrikel yang harus di hasilkan untuk memompa darah melawan perbedaan tekanan yang di timbulkan oleh tekanan arteriole.
D.      Tanda dan Gejala
Manifestasi klinis gagal jantung bervariasi, tergantung dari umur pasien, beratnya gagal jantung, etiologi penyakit jantung, ruang-ruang jantung yang terlibat, apakah kedua ventrikel mengalami kegagalan serta derajat gangguan penampilan jantung.
Pada penderita gagal jantung kongestif, hampir selalu ditemukan :
1.      Gejala paru berupa dyspnea, orthopnea dan paroxysmal nocturnal dyspnea.
2.      Gejala sistemik berupa lemah, cepat lelah, oliguri, nokturi, mual, muntah, asites, hepatomegali, dan edema perifer.
3.      Gejala susunan saraf pusat berupa insomnia, sakit kepala, mimpi buruk sampai delirium.
Pada gagal jantung kanan, manifestasi klinaiknya dikarakteristikkan oleh edema dependen dan pitting dapat dilihat pada sternum atau sakrum pada individu yang berbaring serta pada kaki dan tungkai individu yang duduk. Pembesaran limfa dan hati dapat menyebabkan tekanan pada organ sekitar. Ikterik dan masalah koagulasi dapat terjadi penderita gagal jantung kanan. (Tambayong, 2000)
E.       Pemeriksaan Diagnostik
1.      EKG : Hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia, dan kerusakan pola mungkin terlihat. Distrimia, misal takikardi, fibrilasi atrial, mungkin sering terdapat KVP. Kenaikan segmen ST/T persisten 6 minggu atau lebih setelah infark miokard menunjukkan adanya aneurisme ventrikular (dapat menyebabkan gagal/disfungsi jantung).
2.      Sonogram (ekocardiogram, ekokardiogram dopple): Dapat menunjukkan dimensi perbesaran bilik, perubahan dalam fungsi/struktur katup, atau area penurunan kontraktilitas ventrikuler.
3.      Skan jantung (multigated acquisiton (MUGA)) : Tindakan penyuntikkan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding.
4.      Keterisasi jantung: Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan versus sisi kiri, dan stenosis katup atau insufisiensi. Juga mengkaji patensi arteri koroner. Zat kontras disuntikan ke dalam ventrikel menunjukan ukuran abnormal dan ejeksi fraksi/perubahan kontraktilitas.
5.      Rongten dada: dapat menunjukkan perbesaran jantung, bayangan mencerminkan dilatasi/hipertrofi bilik, atau perubahan dalam pembuluh darah mencerminkan peningkatan tekanan pulmonal. Kontur abnormal, misal bulging pada perbatasan jantung kiri, dapat menunjukkan aneurisme ventrikel.
6.      AGD : Gagal ventrikel kiri di tandai dengan alkalosis respiratorik ringan (dini) atau hipoksemia dengan peningkatan PCO2 (akhir). (Doenges, 2002)
F.        Komplikasi
1.       Tromboemboli adalah risiko terjadinya bekuan vena (thrombosis vena dalam atau deep venous thrombosis dan emboli paru atau EP) dan emboli sistemik tinggi, terutama pada CHF berat. Bisa diturunkan dengan pemberian warfarin.
2.      Komplikasi fibrilasi atrium sering terjadi pada CHF yang bisa menyebabkan perburukan dramatis. Hal tersebut indikasi pemantauan denyut jantung (dengan digoxin atau β blocker dan pemberian warfarin).
3.      Kegagalan pompa progresif bisa terjadi karena penggunaan diuretik dengan dosis ditinggikan.
4.      Aritmia ventrikel sering dijumpai, bisa menyebabkan sinkop atau sudden cardiac death (25-50% kematian CHF). Pada pasien yang berhasil diresusitasi, amiodaron, β blocker, dan vebrilator yang ditanam mungkin turut mempunyai peranan.
G.      Penatalaksanaan
Menurut Smeltzer dan Bare, (2002), penatalaksanaan pasien gagal jantung terdiri dari:
a.       Penetalaksanaan non farmakologi
1.      Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya, pengobatan dan pertolongan yang dapat dilakukan sendiri.
2.      Perubahan gaya hidup seperti pengaturan nutrisi dan penurunan berat badan pada penderita kegemukan.
3.      Pembatasan asupan garam dan pembatasan asupan cairan
4.      Menghentikan perilaku minum minuman keras beralkohol
5.      Dianjurkan untuk berolahraga, karena mempunyai efek yang positif terhadap otot skeletal, fungsi saraf otonom, endotel serta neuroabnormal dan juga terhadap sensitifitas terhadap insulin.
b.      Penatalaksannan farmakologis
Obat-obatan yang bisas digunakan pada pasien gagal jantung antara laian: diuretik (loop dan thiazid), ACE-inhibitor, β-blocker (carvedibol, bisoprolol, metaprolol), digoksin, spironolakton, vasodilator (hydralazine, nitrat), antikoagulan, antiaritmia, serta obat inotropik positif. (Majid, 2010)
H.      Prognosis
Gagal jantung kongetif merupakan penyakit cardiovaskular yang terus meningkat insiden dan prevalensinya. Risiko kematian akibat gagal jantung berkisar antara 5-10% pertahun pada gagal jantung ringan dan meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Selain itu, gagal jantung merupakan penyakit yang paling sering memerlukan perawatan ulang di rumah sakit meskipun pengobatan rawat jalan telah diberikan secara optimal. Menurut Andrianto (2008), angka rawat ulang pasien gagal jantung kongestif dengan frekuensi 1 kali atau lebih selama 12 bulan sebear 45%. (Majid, 2010)



ASUHAN KEPERAWATAN CHF
A.    Pengkajian
1.        Aktivitas/istrahat
Gejala       :
a.       Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari
b.      Insomnia
c.       Nyeri dada dengan aktivitas
d.      Dispnea pada saat istrahat atau pada pengerahan tenaga
Tanda       :
a.       Gelisah, perubahan status mental misalnya, letargi
b.      Tanda vital berubah pada aktivitas
2.        Sirkulasi
Gejala       :
a.       Riwayat hipertensi, IM baru/akut, episode GJK sebelumnya, penyakit katub jantung, bedah jantung, andokarditis, SLE, anemia, syok septic.
b.      Bengkak pada kaki, telapak kaki, abdomen, “sabuk terlalu ketat” (pada gagal bagian kanan).
Tanda       :
a.       TD: mungkin rendah (gagal pemompaan); normal (GJK ringan atau kronis); atau tinggi ( kelebihan beban cairan/peningkatan TVS).
b.      Tekanan nadi: mungkin sempit, menunjukan penurunan volume sekuncup
c.       Frekuensi jantung: takikardia (gagal jantung kiri).
d.      Irama jantung: disritmia, misalnya fibrilasi atrium, kontraksi ventrikel premature/takikardia, blok jantung
e.       Nadi apical: PMI mungkin menyebar dan berubah posisi secara inferior ke kiri.
f.       Bunyijantung: s3 (gallop) adalah diagnostic; s4 dapat terjadi; s1 dan s2 mungkin melemah
g.      Murmur sistolik dan diastolic dapat menandakan danya stenosis katup atau insufisiensi
h.      Nadi: nadi perifer berkurang; perubahan dalam kekuatan denyutan dapat terjadi; nadi sentral mungkin kuat, misalnya, nadi jugularis, karotis, abdominal terlihat.
i.        Warna: kebiruan, pucat, abu-abu, sianotik
j.        Punggung kuku: pucat atau sianotik dengan pengisian kapiler lambat.
k.      Hepar: pembesaran/dapat teraba, reflex hepatojugularis.
l.        Bunyi napas: krekels, ronchi.
m.    Edema: mungkin dependen, umum atau pitting, khususnya pada ekstremitas; DVJ
3.        Integritas ego
Gejala       :
a.       Ansietas, kuatir, takut
b.      Stress yang berhubungan dengan penyakit/keprihatinan financial (pekerjaan/biaya perawatan medis).
Tanda         : berbagai manifestasi perilaku, misalnya, anisetas, marah, ketakutan, mudah tersinggung
4.        Eliminasi
Gejala       :
a.       Penurunan berkemih, urine berwarna gelap
b.      Berkemih malam hari
c.       Diare/konstipasi
5.        Makanan/cairan
Gejala       :
a.       Kehilangan nafsu makan
b.      Penambahan berat badan signifikan
c.       Pembengkakan pada ekstremitas bawah
d.      Pakaian/sepatu terasa sesak
e.       Diet tinggi garam/makanan yang telah diproses, lemak, gula dan kafein
f.       Penggunaan diuretic
Tanda       :
a.       Penambahan berat badan cepat
b.      Distensi abdomen (asites); edema (umum, dependen, tekanan, pitting)
6.        Hygiene
Gejala       : keletihan/kelemahan, kelelahan selama aktivitas perawatan diri
Tanda       :penampilan menandakan kelalaian perawatan professional
7.        Neurosensori
Gejala       : kelemahan, pening, episode pingsan
Tanda       :
a.       Letargi, kusut piker, disprientasi
b.      Perubahan perilaku, mudah tersinggung
8.        Nyeri/kenyamanan\
Gejala       :
a.       Nyeri dada, angina akut atau kronis
b.      Nyeri abdomen kanan atas (AKaA)
c.       Sakit pada otot
Tanda       :
a.       Tidak tenang, gelisah
b.      Focus menyempit (menarik diri)
c.       Perilaku melindung diri
9.        Pernapasan
Gejala       :
a.       Dispnea saat beraktivitas, tiudr sambil duduk, atau dengan beberapa bantal
b.      Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum
c.       Riwayat penyakit paru kronis
d.      Penggunaan bantuan pernapasan,misalnya, oksigen atau medikasi
Tanda       :
a.       Prnapasan: takipnea, nafas dangkal, pernapasan labored; penggunaan otot aksesori pernapasan, nafas flaring
b.      Batuk: kering/nyaring/nonproduktif atau mungkin batuk terus menerus dengan/tnpa pembentukan sputum
c.       Sputum: mungkin bersemu darah, merah muda/berbuih (edema pulmonal)
d.      Bunyi napas: mungkin tidak terdengar, dengan krakels basilar dan mengi
e.       Fungsi mental: mungkin menurun; letargi,; kegelisahan
f.       Warna kulit: pucat atau sianosis
10.    Keamanan
Gejala       :
a.       Perubahan dalam fungsi mental
b.      Kehilangan kekuatan/tonus otot
c.       Kulit lecet
11.    Interaksi social
Gejala       : penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan
12.    Pembelajaran/pengajaran
Gejala         : menggunakan/lupa menggunakan obat-obatan jantung; misalnya, penyekat saluran kalsium
Tanda         : bukti tentang ketidakberhasilan untuk meningkatkan
Pertimbangan rencana pemulangan          :
a.       DRG menunjukan rerata lamanya dirawat: 8,2 hari.
b.      Bantuan untuk berbelanja transportasi, kebutuhan perawatan diri, tugas-tugas pemeliharaan
c.       Pengaturan rumah
d.      Perubahan dalam terapi/penggunaaan obat
e.       Perubahan dalam tatanan fisik rumah.

B.     Diagnosa
1.        Curah jantung, menurun b/d perubahan kontraktilitas miokardia/inotropik. Perubahan frekuensi, irama, konduksi listrik. Perubahan structural.
2.        Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen/kebutuhan. Kelemahan umum. Tiraah baring lama.imobilitas.
3.        Kelebihan volume cairan b/d menurunnya laju filtrasi glomerulus.
4.        Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membrane kapiler alveolus, contoh pengumpulan/perpindahan cairan kedalam area intertisial/alveoli
5.        Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit b/d tirah baring lama. Edema, penurunan perfusi jaringan.
6.        Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi, program pengobatan b/d kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit/gagal.

C.    Intervensi
1.        Diagnosa I : Curah jantung, menurun b/d perubahan kontraktilitas miokardia/inotropik. Perubahan frekuensi, irama, konduksi listrik. Perubahan structural.
Intervensi:
a.       Auskultasi nadi apical; kaji frekuensi, irama jantung.
Rasional: biasanya terjadi takikardi (meskipun pada saat istrahat) untuk menkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler.
b.      Catat bunyi jantung
Rasional : s1 dan s2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa. Iram gallop umum (s3 dan s4) dihasilkan sebgai aliran darah; kedalam serambi yang distensi.
c.       Palpasi nadu perifer
Rasional : oenurunan curah jantung dapat menunjukan manurunnya nadi radial, popliteal,dorsalis pedis, dan postibial.
d.      Pantau TD
Rasional : pada GJK dini, sedang atau kronis tekanan darah dapat meningkat sehubungan dengan SVR.
e.       Kaji kulit terhadap picat dan sianosis
Rasional : pucat menunjukan menurunnya perfusi perifer sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung, vasokontriksi, dan anemia.
f.       Berikan istrahat semi rekumben pada tempat tidur atau kursi. Kaji dengan pemeriksaan fisik sesuai dengan indikasi.
Rasional : istrahat fisik harus diperhatikan selama GJK akut atau refraktori untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung dan menurunkan kebutuhan/konsumsi oksigen miokard dan kerja berlebihan
g.      Tinggikan kaki, hindari tekanan pada bawah lutut. Dorong olahraga aktif/pasif. Tingkatkan ambulasi/aktivitas sesuai toleransi.
Rasional : menurunkan stasis vena dan dapat menurunkan insiden thrombus/pembentukan embolus.
h.      Kolaborasi pemberian obat diuretic, vasodilator,
Rasional : banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas, dan menurunkan kongesti.
2.        Diagnosa II : Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen/kebutuhan. Kelemahan umum. Tiraah baring lama.imobilitas.
Intervensi:
a.       Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas, khususnya pasien bila menggunakan vasodilator, diuretic, penyekat beta.
Rasional : hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilasi), perpindahan cairan (diuretic) atau pengaruh fungsi jantung.
b.      Catat respon kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat takikardi, distritmia, dispnea, berkeringat, pucat.
Rasional : penurunan/ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selam aktivitas, dapat meningkatkan segera pada frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen, juga peningkatankelelahan dan kelemahan.
c.       Kaji prespitator/penyebab kelemahan contoh pengobatn, nyeri, obat.
Rasional : kelemahan adalah efek samping beberapa obat .
d.      Evaluasi peningkatan intoleran aktivitas
Rasional : dapat menunjukan penignkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas
e.       Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi.
Rasional : pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien tanpa mempengaruhi stress miokard/kebutuhan oksigen berlebihan
f.       Implementasikan program rehabilitasi jantung/aktivitas
Rasional : peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan.
3.        Diagnosa III : Kelebihan volume cairan b/d menurunnya laju filtrasi glomerulus.
Intervensi:
a.       Pantau haluaran urine. Catat jumlah dan warna saat hari diman dieresis terjadi
Rasional : haluaran urine mungkin sedikit dan peka karena penurunan perfusi ginjal
b.      Pantau/hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam.
Rasional : terapi diuretic dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba-tiba/berlebihan meskipun edema masih ada
c.       Pertahankan duduk atau tirah baring dengan posisi semi fowler selama fase akut
Rasional : posisi terlentang meningkatkan filtrasi ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meniingkatkan dieresis
d.      Auskultasi bunyi nafas. Catat penurunan dan tau bunyi tambahan
Rasional : kelebihan volume cairan sering menimbulkan kongesti paru
e.       Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi seperti diuretic dan tiazid denga agen perlawanan kalium
Rasional : meningkatkan laju aliran urine dan dapat menghambat reabsorbsi natrium/klorida pada tubulus ginjal
f.       Mempertahankan cairan/pembatasan natrium sesuai indikasi
Rasional : menurunkan air total tubuh/mencegah reakumulasi cairan.
4.        Diagnosa IV : Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membrane kapiler alveolus, contoh pengumpulan/perpindahan cairan kedalam area intertisial/alveoli
Intervensi:
a.       Auskultasi bunyi nafas, catat krekels, mengi
Rasional : menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan secret menunjukan kebutuhan untuk intervensi lanjut
b.      Anjurkan klien batu efektif, nafas dalam
Rasional : membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran oksigen
c.       Dorong perubahn posisi sering
Rasional : membantu mencegah atelektasis dan pneumonia
d.      Pertahankan duduk dikursi/tirah baring dengan kepala tempat tidur tinggi 20-30 derajat, posisi semi fowler, sokong tangan dengan bantal
Rasional : menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan dan meningkatkan inflamasi paru maksimal
e.       Kolaborasi pemberian oksigen tambahn sesuai indikasi
Rasional : meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, yang dapat memperbaiki/menurunkan hipoksemia jaringan
5.        Diagnosa V : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit b/d tirah baring lama. Edema, penurunan perfusi jaringan
Intervensi:
a.       Lihat kulit, catat penonjolan tulang, adanya edema, area sirkulasinya terganggu/pigmentasi.
Rasional : kulit beresiko karena gangguan sirkulasi perifer, imobilitas fisik, dan gangguan status nutrisi.
b.      Pijat area kemerahan atau yang memutih
Rasional : meningkatkan aliran darah, meminimalkan hipoksia jaringan
c.       Ubah posisi sering di tempat tidur/kursi, bantu latihan rentang gerak aktif/pasif
Rasional : memperbaiki sirkulasi /menurunkan waktu satu area yang menganggualiran darah
d.      Berikan perawatan kulit sering, meminimalkan dengan kelembaban/eskresi.
Rasional : terlalukering atau lembab merusak kulit dan mempercepat kerusakan
e.       Hindari obat intramuscular
Rasional : edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorbs obat dan predisposisi untuk kerusakn kulit/terjadinya infeksi
f.       Berikan tekanan alternative/kasur, kulit domba, prlindungan sikut atau tumit
Rasional : menurunkan tekanan pada kulit, dapat memperbaiki sirkulasi.
6.        Diagnosa VI : Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi, program pengobatan b/d kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit/gagal.
Intervensi:
a.       Diskusikan fungsi jantung normal. Meliputi informasi sehubungan dengan pasien dari fungsi normal. Jelaskan perbedaan serangan jantung dan GJK.
Rasional : pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan kekuatan pada program pengobatan
b.      Diskusikan obat, tujuan dan efek samping. Berikan instruksi secra verbal dan tertulis
Rasional : pemahaman kebutuha terapeutik dan pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah terjadinya komplikasi obat
c.       Anjurkan makan diet pada pagi hari
Rasional : memberikan waktu adekuat untuk efek obat sebelum waktu tiduruntuk mencegah/membatsi menghentikan tidur
d.      Bahas ulang tanda/gejala yang memerlukan perhatianmedik cepat, contoh peningkatan berat badan cepat, edema, nafas pendek, peningkatan kelelahan, batuk, hemoptisis, demam.
Rasional : pemantauan sendiri meningkatkan tanggung jawab pasien dalam pemeliharaan kesehatan dan alat mencegah komplikasi.
e.       Berikan kesempatan pasien/orang terdekta untuk menanyakan, mendiskusikan masalah dan membuat perubahan pola hidup yang perlu
Rasional : kondisi kronis dan berulang/menguatnya kondisi GJK sering melemahkan kemampuan koping dan kapasitas dukungan pasien dan orang terdekat, menimbulkan depresi
f.       Rujuk pada sumber dimsyarkat/kelompok pendukung sesuai indikasi
Rasional : dapat menambahkan bantuan dengan pemantauan sendiri/penatalaksanaan di rumah. (Doenges, 2002)




DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Doenges, dkk. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Majid, Abdul. 2010. Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Rawat Inap Ulang Pasien Gagal Jantung Kongestif Di Rumah Sakit Yogyakarta Tahun 2010. Tesis. Universitas indonesia
Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar