Cari Blog Ini

Minggu, 08 November 2015

Fraktur Terbuka



http://blog.awalbros.com/wp-content/uploads/2015/05/tulang.jpgBAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000).
Adapun jenis-jenis fraktur yaitu: Ada fraktur komplet, fraktur tidak komplet, fraktur terbuka, fraktur tertutup, greensik, transfersal, komuditif, depresi, kompesi, dan patologi.
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall, 1995).
B.     Tujuan
1.      Tujuan umum
Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dan asuhan keperawatan pada fraktur terbuka
2.      Tujuan khusus
Mahasiswa mampu memperoleh gambaran tentang :
a.       Definisi  dari fraktur
b.      Etiologi dari fraktur
c.       Patifisiologi  dari fraktur
d.      Manifestasi klinik pada fraktur
e.       Pemeriksaan penunjang pada fraktur
f.       Pengobatan pada fraktur
g.      Asuhan keperawatan pada fraktur
h.      Penangan gawat darurat

BAB II
LANDASAN TEORI

A.    KONSEP TEORI
1.      Pengertian
Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul komplikasi berupa infeksi.
Fraktur terbuka adalah patah tulang dimana fragmen tulang yang bersangkutan sedang atau pernah berhubungan dengan dunia luar.

2.    Etiologi
a.       Trauma
Ø  Trauma lansung:  benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat itu
Ø  Trauma tidak lansung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
b.      Patologis ( penyakit pada tulang )
c.       Degenerasi spontan

3.      Klasifikasi
Menurut Gustilo Anderson, fraktur terbuka dibagi menjadi:
a.       Derajat I
b.      Derajat II
c.       Derajat III
Ø  III A
Ø  III B
Ø  III C



4.      Manifestasi Klinik
Terdapat tanda-tanda patah tulang dengan luka di daerah tersebut. Darah yang keluar berwarna lebih kehitaman, bercampur butiran lemak dan selalu merembes, disertai nyeri dan perdarahan.

5.      Penatalaksanaan
a.       Live saving
Ingat ABC
b.      Mengurangi nyeri
c.       Propilaksis antibiotika & anti tetanus
d.      Debridement & irigasi
e.       Fixasi & imobilisasi
f.       Penutupan luka
g.      Rehabilitasi

B.     ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian Keperawatan
a.       Data Biografi
Identitas pasien seperti umur, jenis kelamin, alamat, agama, penaggung jawab, status perkawinan.
b.      Riwayat Kesehatan
Ø  Riwayat medis dan kejadian yang lalu
Ø  Riwayat kejadian cedera kepala, seperti kapan terjadi dan penyebab terjadinya
Ø  Penggunaan alkohol dan obat-obat terlarang lainnya.
c.       Pemeriksaan fisik
Ø  Aktivitas/istirahat
Tanda: Keterbatasab/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri)


Ø  Sikulasi
Tanda: Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi  (kehilangan darah). Takikardia (respon stres, hipovolemia). Penurunan/tak ada nadi pada bagian distal yang cedera, pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena. Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera.
Ø  Neurosensori
Gejala: hilang gerakan/sensasi, spasme otot, kebas/kesemutan (parestesis).
Tanda: deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan/hilang fungsi. Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma lain).
Ø  Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi), tidak ada nyeri akibat kerusakan saraf. Spasme/kram otot (setelah imobilisasi)
Ø  Keamanan
Tanda:  laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna. Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
d.      Pemeriksaan diagnostik
Ø  Pemeriksaan Ronsen : menentukan lokasi/luasnya fraktur femur/trauma.
Ø  Scan tulang, tomogram, scan CT/MRI: memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
Ø  Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
Ø  Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel). Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma.
Ø  Kreatinin : trauma otot mungkin meningkatkan beban kreatininuntuk klirens ginjal.
Ø  Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multipel, atau cedera hati.

2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang
b.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi
c.       Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
d.      Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.

3.      Intervensi Keperawatan
Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op frakture meliputi :
a.       Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang
Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil : Nyeri berkurang atau hilang, Klien tampak tenang.
Intervensi dan Implementasi:
Ø  Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga
R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif
Ø  Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri
R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri
Ø  Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri
R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri.
Ø  Observasi tanda-tanda vital.
R/ untuk mengetahui perkembangan klien
Ø  Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik
R/ merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.

b.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus., luka bersih tidak lembab dan tidak kotor, Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi
Ø  Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.
R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat.
Ø  Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka
R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi.
Ø  Pantau peningkatan suhu tubuh.
R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan.
Ø  Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas.
R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.
Ø  Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.
R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya.
Ø  Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.
R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.
Ø  Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.


c.       Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
Tujuan : Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
Kriteria hasil : penampilan yang seimbang, melakukan pergerakkan dan perpindahan., mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik :
0    : mandiri penuh
1    : memerlukan alat bantu
2    : memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran
3    : membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat bantu
4    : ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi dan Implementasi :
Ø  Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.
R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
Ø  Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.
Ø  Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.
R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
Ø  Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.\
Ø  Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.

d.      Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.
Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.
Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :
Ø  Pantau tanda-tanda vital.
R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.
Ø  Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik
R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.
Ø  Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
Ø  Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.
R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.
Ø  Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.
























BAB III
TINJAUAN KASUS

A.    Studi Kasus

Tn B umur 26, dibawah kerumah sakit dengan keluhan Kecelakaan lalu lintas, patah tulang paha terbuka karena sepeda motor menabrak pohon. Pasien dibawa ke RS Ibnu Sina karena tidak sanggup ditangani, maka dirujuk ke RS Wahiddin. Hasil anamnesa, Tn B menabrak pohon setelah Tn.B minum alkohol. Klien tampak tidak sadar, amnesia, tidak ada muntah dan tidak ada kejang.

B.     Penanganan Awal
1.      Penanganan  fraktur terbuka:
a.       Obati sebagai suatu kegawatan
b.      Evaluasi awal dan diagnosis kelainan yang mungkin akan menjadi penyebab kematian
c.       Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi dan setelah operasi
d.      Segera lakukan debridement dan irigasi yang baik
e.       Ulangi debridemen 24-72 jam berikutnya
f.       Stabilisasi fraktur
g.      Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari
h.      Lakukan bone graft autogenous secepatnya
i.        Rehabilitasi anggota gerak yang terkena

2.      Tahap pengobatan patah tulang terbuka
a.       Pembersihan luka
b.      Eksisi jaringan yang mati dan disangka mati
c.       Pengobatan patah tulang dan penentuan jenis traksi
d.      Penutupan kulit
e.       Pemberian antibiotik
f.       Pencegahan tetanus
BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pengkajian pada klien dengan open fraktur dilakukan untuk mendapatkan informasi dan datan yang akurat, berdasarkan data dari hasil pengkajian telah dapat diintrprestasikan dan ditetapkan diagnosa, rencana, tindakan, dan evaluasi. Dari hasil hasil idetifikasiyang telah dilakukan ditemukan ada dua diagosa dan salah satu diagnosa yaitu gangguan inegritas jaringan yang membutuhkan penanganan yang akurat karena diagnosa ini sangat beresiko terjadinya infeksi apabila tidak ditangani dengan akurat, oleh karena itu perlu diberikan informasi kepada klien dan keluarganya tentang masalah yang dihadapi klien.
Asuhan keperawatan yang diberikan dilaksanakan berdasarkan rencana asuhan yang telah dibuat sesuai dengan tingkat kebutuhan klien agar asuhan yang diberikan dapat mengatasi masalah yang diaami klien. Evaluasi asuhan keperawatan yang dilakukan kepada klien sesuai dengan konsep teori yang ada untuk mengetahui sejauh mana perkembangan tindakan yang telah dilakukan pada klien dengan masalah fraktur

B.     Saran













DAFTAR PUSTAKA

Barbara, C. B., (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah, Volume I, EGC: Jakarta.

Doenges, dkk, (2005). Rencana asuhan keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. EGC: Jakarta

Mansjoer, dkk., (2000). Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3. Media Aesculapius: Jakarta

Price & Wilson, (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyaki. Volume 2. Edisi 6. EGC : Jakarta.

Sjamsuhidajat R., (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC: Jakarta

Smeltzer & Bare, (2003). Buku ajar keperawatan medical bedah. Volume 3. Edisi 8. EGC: Jakarta















Tidak ada komentar:

Posting Komentar