PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Fraktur
adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya,
terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao
stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart,
2000).
Adapun
jenis-jenis fraktur yaitu: Ada fraktur komplet, fraktur tidak komplet, fraktur
terbuka, fraktur tertutup, greensik, transfersal, komuditif, depresi, kompesi,
dan patologi.
Tulang
bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan
tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang
lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang
yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito,
Lynda Juall, 1995).
B.
Tujuan
1.
Tujuan umum
Mahasiswa mampu
menjelaskan konsep dan asuhan keperawatan pada fraktur terbuka
2.
Tujuan
khusus
Mahasiswa mampu memperoleh gambaran tentang :
a.
Definisi dari fraktur
b.
Etiologi dari fraktur
c. Patifisiologi
dari fraktur
d. Manifestasi
klinik pada fraktur
e. Pemeriksaan
penunjang pada fraktur
f. Pengobatan pada fraktur
g. Asuhan
keperawatan pada fraktur
h. Penangan
gawat darurat
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
KONSEP TEORI
1.
Pengertian
Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi
hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi
bakteri sehingga timbul komplikasi berupa infeksi.
Fraktur terbuka adalah patah tulang dimana
fragmen tulang yang bersangkutan sedang atau pernah berhubungan dengan dunia luar.
2.
Etiologi
a.
Trauma
Ø
Trauma
lansung: benturan pada tulang dan
mengakibatkan fraktur pada tempat itu
Ø
Trauma tidak lansung: bilamana titik tumpul benturan dengan
terjadinya fraktur berjauhan.
b.
Patologis
( penyakit pada tulang )
c.
Degenerasi
spontan
3. Klasifikasi
Menurut
Gustilo Anderson, fraktur terbuka dibagi
menjadi:
a.
Derajat
I
b.
Derajat
II
c.
Derajat
III
Ø
III
A
Ø
III
B
Ø
III C
4. Manifestasi
Klinik
Terdapat tanda-tanda patah tulang dengan luka
di daerah tersebut. Darah yang keluar berwarna lebih kehitaman, bercampur
butiran lemak dan selalu merembes, disertai nyeri dan perdarahan.
5. Penatalaksanaan
a.
Live
saving
Ingat ABC
b.
Mengurangi
nyeri
c.
Propilaksis antibiotika & anti tetanus
d.
Debridement
& irigasi
e.
Fixasi & imobilisasi
f.
Penutupan
luka
g.
Rehabilitasi
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Keperawatan
a.
Data Biografi
Identitas
pasien seperti umur, jenis kelamin, alamat, agama, penaggung jawab, status
perkawinan.
b.
Riwayat Kesehatan
Ø
Riwayat medis dan kejadian yang lalu
Ø
Riwayat kejadian cedera kepala,
seperti kapan terjadi dan penyebab terjadinya
Ø
Penggunaan alkohol dan obat-obat
terlarang lainnya.
c.
Pemeriksaan fisik
Ø
Aktivitas/istirahat
Tanda:
Keterbatasab/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera,
fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan,
nyeri)
Ø
Sikulasi
Tanda:
Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas) atau
hipotensi (kehilangan darah). Takikardia (respon stres, hipovolemia). Penurunan/tak
ada nadi pada bagian distal yang cedera, pengisian kapiler lambat, pucat pada
bagian yang terkena. Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi
cedera.
Ø
Neurosensori
Gejala:
hilang gerakan/sensasi, spasme otot, kebas/kesemutan (parestesis).
Tanda:
deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi
berderit), spasme otot, terlihat kelemahan/hilang fungsi. Agitasi (mungkin
berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma lain).
Ø
Nyeri/kenyamanan
Gejala
: nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area
jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi), tidak ada nyeri
akibat kerusakan saraf. Spasme/kram otot (setelah imobilisasi)
Ø
Keamanan
Tanda:
laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna. Pembengkakan
lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
d.
Pemeriksaan diagnostik
Ø
Pemeriksaan Ronsen : menentukan
lokasi/luasnya fraktur femur/trauma.
Ø
Scan tulang, tomogram, scan CT/MRI:
memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan
jaringan lunak.
Ø
Arteriogram : dilakukan bila
kerusakan vaskuler dicurigai.
Ø
Hitung darah lengkap: Ht mungkin
meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur
atau organ jauh pada trauma multipel). Peningkatan jumlah SDP adalah respon
stres normal setelah trauma.
Ø
Kreatinin : trauma otot mungkin
meningkatkan beban kreatininuntuk klirens ginjal.
Ø
Profil koagulasi : perubahan dapat
terjadi pada kehilangan darah, transfusi multipel, atau cedera hati.
2. Diagnosa
Keperawatan
a.
Nyeri
berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang
b.
Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik,
kerusakan sirkulasi
c.
Hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan
muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
d.
Risiko infeksi
berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur
invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.
3.
Intervensi Keperawatan
Intervensi dan
implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op frakture
meliputi :
a.
Nyeri berhubungan dengan terputusnya
jaringan tulang
Tujuan : nyeri
dapat berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil
: Nyeri berkurang atau hilang, Klien tampak tenang.
Intervensi dan
Implementasi:
Ø Lakukan
pendekatan pada klien dan keluarga
R/ hubungan
yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif
Ø Kaji tingkat
intensitas dan frekwensi nyeri
R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan
skala nyeri
Ø Jelaskan pada klien
penyebab dari nyeri
R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien
tentang nyeri.
Ø Observasi
tanda-tanda vital.
R/ untuk mengetahui perkembangan klien
Ø Melakukan
kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik
R/ merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik
berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.
b. Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik,
kerusakan sirkulasi.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang
sesuai.
Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi seperti
pus., luka bersih
tidak lembab dan tidak kotor, Tanda-tanda vital dalam batas normal
atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi
Ø Kaji kulit dan
identifikasi pada tahap perkembangan luka.
R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah
dalam melakukan tindakan yang tepat.
Ø Kaji lokasi,
ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka
R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan
mempermudah intervensi.
Ø Pantau
peningkatan suhu tubuh.
R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan
sebagai adanya proses peradangan.
Ø Berikan
perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril,
gunakan plester kertas.
R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka
dan mencegah terjadinya infeksi.
Ø Jika pemulihan
tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.
R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak
menyebar luas pada area kulit normal lainnya.
Ø Setelah
debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.
R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari
tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.
Ø Kolaborasi
pemberian antibiotik sesuai indikasi.
R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme
pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.
c. Hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan
muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
Tujuan : Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas
optimal.
Kriteria hasil : penampilan yang seimbang, melakukan
pergerakkan dan perpindahan., mempertahankan mobilitas optimal yang
dapat di toleransi, dengan karakteristik :
0 : mandiri penuh
1 : memerlukan
alat bantu
2 : memerlukan
bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran
3 : membutuhkan
bantuan dari orang lain dan alat bantu
4 :
ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi dan
Implementasi :
Ø Kaji kebutuhan
akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.
R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
Ø Tentukan
tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas
apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.
Ø Ajarkan dan
pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.
R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
Ø Ajarkan dan
dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan
otot.\
Ø Kolaborasi
dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan
dan
mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.
d. Risiko infeksi
berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur
invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.
Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.
Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti
pus. Luka bersih
tidak lembab dan tidak kotor. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat
ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :
Ø Pantau
tanda-tanda vital.
R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila
suhu tubuh meningkat.
Ø Lakukan
perawatan luka dengan teknik aseptik
R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.
Ø Lakukan
perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
Ø Jika ditemukan
tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.
R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari
normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.
Ø Kolaborasi
untuk pemberian antibiotik.
R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme
patogen.
BAB III
TINJAUAN KASUS
A.
Studi Kasus
Tn
B umur 26, dibawah kerumah sakit dengan keluhan Kecelakaan lalu lintas, patah tulang paha terbuka
karena sepeda motor menabrak pohon. Pasien dibawa ke RS Ibnu Sina karena tidak sanggup ditangani, maka
dirujuk ke RS Wahiddin. Hasil anamnesa, Tn B menabrak pohon setelah Tn.B minum
alkohol. Klien tampak tidak
sadar, amnesia, tidak ada muntah dan tidak ada kejang.
B.
Penanganan Awal
1. Penanganan fraktur terbuka:
a. Obati
sebagai suatu kegawatan
b. Evaluasi
awal dan diagnosis kelainan yang mungkin akan menjadi penyebab kematian
c. Berikan
antibiotik dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi dan setelah operasi
d. Segera
lakukan debridement dan irigasi yang baik
e. Ulangi
debridemen 24-72 jam berikutnya
f. Stabilisasi
fraktur
g. Biarkan luka
terbuka antara 5-7 hari
h. Lakukan bone
graft autogenous secepatnya
i.
Rehabilitasi anggota gerak yang
terkena
2. Tahap
pengobatan patah tulang terbuka
a. Pembersihan
luka
b. Eksisi
jaringan yang mati dan disangka mati
c. Pengobatan
patah tulang dan penentuan jenis traksi
d. Penutupan
kulit
e. Pemberian
antibiotik
f. Pencegahan
tetanus
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pengkajian
pada klien dengan open fraktur dilakukan untuk mendapatkan informasi dan datan
yang akurat, berdasarkan data dari hasil pengkajian telah dapat
diintrprestasikan dan ditetapkan diagnosa, rencana, tindakan, dan evaluasi.
Dari hasil hasil idetifikasiyang telah dilakukan ditemukan ada dua diagosa dan
salah satu diagnosa yaitu gangguan inegritas jaringan yang membutuhkan
penanganan yang akurat karena diagnosa ini sangat beresiko terjadinya infeksi
apabila tidak ditangani dengan akurat, oleh karena itu perlu diberikan
informasi kepada klien dan keluarganya tentang masalah yang dihadapi klien.
Asuhan keperawatan yang diberikan dilaksanakan berdasarkan rencana asuhan yang telah dibuat sesuai dengan tingkat kebutuhan klien agar asuhan yang diberikan dapat mengatasi masalah yang diaami klien. Evaluasi asuhan keperawatan yang dilakukan kepada klien sesuai dengan konsep teori yang ada untuk mengetahui sejauh mana perkembangan tindakan yang telah dilakukan pada klien dengan masalah fraktur
Asuhan keperawatan yang diberikan dilaksanakan berdasarkan rencana asuhan yang telah dibuat sesuai dengan tingkat kebutuhan klien agar asuhan yang diberikan dapat mengatasi masalah yang diaami klien. Evaluasi asuhan keperawatan yang dilakukan kepada klien sesuai dengan konsep teori yang ada untuk mengetahui sejauh mana perkembangan tindakan yang telah dilakukan pada klien dengan masalah fraktur
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Barbara, C. B., (1999). Rencana Asuhan Keperawatan
Medikal-Bedah, Volume I, EGC: Jakarta.
Doenges, dkk, (2005). Rencana
asuhan keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan
pasien. EGC: Jakarta
Mansjoer, dkk., (2000). Kapita Selekta
Kedokteran, edisi 3. Media Aesculapius: Jakarta
Price & Wilson, (2006). Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-Proses Penyaki. Volume 2. Edisi 6. EGC : Jakarta.
Sjamsuhidajat R., (1997). Buku Ajar
Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC: Jakarta
Smeltzer & Bare, (2003). Buku
ajar keperawatan medical bedah. Volume 3. Edisi 8. EGC: Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar