Cari Blog Ini

Senin, 16 November 2015

ASKEP VERTIGO


VERTIGO

A.    PENGERTIAN

Vertigo adalah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya.  Dapat disertai gejala lain terutama dari jaringan otonomik dri alat keseimbangan tubuh. Vertigo mungkin bukan hanya dari satu gejala pusing saja,  melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatic ( nistagismus, unstable), otonomik ( pucat, keringat dingin, mual, muntah dan pusing)
Vertigo juga dapat terjadi pada berbagai kondisi, termasuk kelainan batang otak yang serius, misalnya skelerosis multiple, infark, dantumor.
Vertigo adalah sensasi berputar atau pusing yang merupakan suatu gejala, penderita merasakan benda-benda disekitarnya bergerak gerak memutar atau bergerak naik turun karena gangguan pada sistem keseimbangan.

B.     ANATOMI
Jaringan saraf yang terkait dalam proses timbulnya sindrom vertigo:
1.        Reseptor alat keseimbangan tubuh yang berperan dalam proses transduksi yaitu mengubah rangsangan menjadi bioelektrokimia:
a.      Reseptor mekanis divestibulum
b.      Resptor cahaya diretina
c.       Resptor mekanis dikulit, otot dan persendian (propioseptik)
2.        Saraf aferen, berperan dalam transmisi menghantarkan impuls ke pusat keseimbangan di otak:
a.      Saraf vestibularis
b.      Saraf optikus
c.       Saraf spinovestibulosrebelaris.
3.        Pusat-pusat keseimbangan, berperan dalam proses modulasi, komparasi, integrasi/koordinasi dan persepsi: inti vestibularis, serebelum, kortex serebri, hypotalamusi, inti akulomotorius, formarsio retikularis

C.     KLASIFIKASI VERTIGO
Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok:
1.        Vertigo paroksismal
Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi :
a.      Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.
b.      Yang tanpa disertai keluhan telinga; termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de L'enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).
c.       Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi, termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo posisional paroksismal benigna.
2.        Vertigo kronis
Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa serangan akut, dibedakan menjadi:
a.      Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor serebelopontin.
b.      Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan endokrin.
c.       Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.
3.        Vertigo yang serangannya mendadak / akut kemudian berangsur-angsur mengurang, dibedakan menjadi :
a.      Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.
b.      Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior.
4.        Ada pula yang membagi vertigo menjadi :
a.      Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.
b.      Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.

D.    ETIOLOGI VERTIGO
Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan melalui organ keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam.Organ ini memiliki saraf yang berhubungan dengan area tertentu di otak.Vetigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telinga dengan otak dan di dalam otaknya sendiri.Vertigo juga bisa berhubungan dengan kelainan penglihatan atau perubahan tekanan darah yang terjadi secara tibatiba.
Penyebab umum dari vertigo:
1.        Keadaan lingkungan
a.      Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut)
2.        Obat-obatan
a.      Alkohol
b.      Gentamisin
3.        Kelainan sirkulasi
a.      Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral dan arteri basiler
4.        Kelainan di telinga
a.      Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam (menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo)
b.      Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri
c.       Herpes zoster
d.      Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)
e.       Peradangan saraf vestibuler
f.        Penyakit Meniere
5.        Kelainan neurologis
a.      Sklerosis multiple
b.      Patah tulang tengkorak yang disertai cedera pada labirin, persarafannya atau keduanya
c.       Tumor otak
d.      Tumor yang menekan saraf vestibularis.

E.     PATOFISIOLOGI
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran.Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak.
Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya

F.     GAMBARAN KLINIS
Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis

G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
Meliputi uji tes keberadaan bakteri melalui laboratorium, sedangkan untuk pemeriksaan diagnostik yang penting untuk dilakukan pada klien dengan kasus vertigo antara lain:
1.        Pemeriksaan fisik
a.      Pemeriksaan mata
b.      Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
c.       Pemeriksaan neurologik
d.      Pemeriksaan otologik
2.        Pemeriksaan khusus
a.      ENG
b.      Audiometri dan BAEP
c.       Psikiatrik
3.        Pemeriksaan tambahan
a.      Radiologik dan Imaging
b.      EEG, EMG
H.    PENATALAKSANAAN
1.        Penatalaksanaan Medis
Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah terapi dengan obat-obatan seperti :
a.      Anti kolinergik
·           Sulfas Atropin : 0,4 mg/im
·           Scopolamin : 0,6 mg IV bisa diulang tiap 3 jam
b.      Simpatomimetika
·           Epidame 1,5 mg IV bisa diulang tiap 30 menit
c.       Menghambat aktivitas nukleus vestibuler
·           Golongan antihistamin
Golongan ini, yang menghambat aktivitas nukleus vestibularis adalah :
a.      Diphenhidramin: 1,5 mg/im/oral bisa diulang tiap 2 jam
b.      Dimenhidrinat: 50-100 mg/ 6 jam.

Jika terapi di atas tidak dapat mengatasi kelainan yang diderita dianjurkan untuk terapi bedah. Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) Terdiri dari :
a.      Terapi kausal
b.      Terapi simtomatik
c.       Terapi rehabilitative
2.        Penatalaksanaan Keperawatan
a.      Karena gerakan kepala memperhebat vertigo, pasien harus dibiarkan berbaring diam dalam kamar gelap selama 1-2 hari pertama.
b.      Fiksasi visual cenderung menghambat nistagmus dan mengurangi perasaan subyektif vertigo pada pasien dengan gangguan vestibular perifer, misalnya neuronitis vestibularis. Pasien dapat merasakan bahwa dengan memfiksir pandangan mata pada suatu obyek yang dekat, misalnya sebuah gambar atau jari yang direntangkan ke depan, temyata lebih enak daripada berbaring dengan kedua mata ditutup.
c.       Karena aktivitas intelektual atau konsentrasi mental dapat memudahkan terjadinya ver­tigo, maka rasa tidak enak dapat diperkecil dengan relaksasi mental disertai fiksasi visual yang kuat.
d.      Bila mual dan muntah berat, cairan intravena harus diberikan untuk mencegah dehidrasi.
e.       Bila vertigo tidak hilang. Banyak pasien dengan gangguan vestibular perifer akut yang belum dapat memperoleh perbaikan dramatis pada hari pertama atau kedua.Pasien merasa sakit berat dan sangat takut mendapat serangan berikutnya.Sisi penting dari terapi pada kondisi ini adalah pernyataan yang meyakinkan pasien bahwa neuronitis vestibularis dan sebagian besar gangguan vestibular akut lainnya adalah jinak dan dapat sembuh. Dokter harus menjelaskan bahwa kemampuan otak untuk beradaptasi akan membuat vertigo menghilang setelah beberapa hari.
f.        Latihan vestibular dapat dimulai beberapa hari setelah gejala akut mereda. Latihan ini untuk rnemperkuat mekanisme kompensasi sistem saraf pusat untuk gangguan vestibu­lar akut.














ASUHAN KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN
1.        Aktivitas / Istirahat
Letih, lemah, malaise, keterbatasan gerak, ketegangan mata, kesulitan membaca, insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala, sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.
2.        Sirkulasi
Riwayat hypertensi, denyutan vaskuler, misal daerah temporal, pucat, wajah tampak kemerahan
3.        Integritas Ego
Faktor faktor stress emosional/lingkungan tertentu, perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi, kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala, mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)
4.        Makanan dan cairan
Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain), mual/muntah, anoreksia (selama nyeri), penurunan berat badan
5.        Neurosensoris
Pening, disorientasi (selama sakit kepala), riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke, aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus, perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis, parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore, perubahan pada pola bicara/pola pikir, mudah terangsang, peka terhadap stimulus, penurunan refleks tendon dalam, papiledema.
6.        Nyeri/ kenyamanan
Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis, nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah, fokus menyempit, fokus pada diri sendiri, respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah, otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
7.        Keamanan
Riwayat alergi atau reaksi alergi, demam (sakit kepala), gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis, drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).
8.        Interaksi social
Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit
9.        Penyuluhan/ Pembelajaran
Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga, penggunaan alkohol/obat lain termasuk kafein, kontrasepsi oral/hormone, menopause.

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.        Resiko jatuh b.d kerusakan keseimbangan (N. VIII)
2.        Intoleransi aktivitas b.d tirah baring
3.        Resiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan
4.        Gangguan persepsi pendengaran b.d tinnitus
5.        Koping individu tidak efektif b.d metode koping tidak adekuat

C.    INTERVENSI KEPERAWATAN
1.        Resiko jatuh b.d Kerusakan keseimbangan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah risiko jatuh dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
a.      Klien dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya
b.      Klien dapat mengantisipasi resiko terjadinya jatuh
Intervensi:
Intervensi
Rasional
1.      Kaji tingkat energi yang dimiliki klien
2.      Berikan terapi ringan untuk mempertahankan kesimbangan
3.      Ajarkan penggunaan alat-alat alternatif dan atau alat-alat bantu untuk aktivitas klien.
4.       Berikan pengobatan nyeri (pusing) sebelum aktivitas
1.      Energi yang besar dapat memberikan keseimbangan pada tubuh saat istirahat
2.      Salah satu terapi ringan adalah menggerakan bola mata, jika sudah terbiasa dilakukan, pusing akan berkurang.
3.      Mengantisipasi dan meminimalkan resiko jatuh.
4.      Nyeri yang berkurang dapat meminimalisasi terjadinya jatuh.

2.        Intoleransi aktivitas b.d tirah baring
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
a.      Meyadari keterbatasan energi
b.      Klien dapat termotivasi dalam melakukan aktivitas
c.       Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat
d.      Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktivitas
intervensi:
Intervensi
Rasional
1.      Kaji respon emosi, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas
2.      Berikan motivasi pada klien untuk melakukan aktivitas
3.      Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah kelelahan.
4.      Kolaborasi dengan ahli terapi okupasi
1.      Respon emosi, sosial, dan spiritual mempengaruhi kehendak klien dalam melakukan aktivitas
2.      Klien dapat bersemangat untuk melakukan aktivitas
3.      Energi yang tidak stabil dapat menghambat dalam melakukan aktivitas, sehingga perlu dilakukan manajemen waktu
4.      Terapi okupasi dapat menentukan tindakan alternatif dalam melakukan aktivitas.

3.        Risiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah kurang nutrisi dapat sedikit teratasi.
Kriteria Hasil :
a.      Klien tidak merasa mual muntah
b.      Nafsu makan meningkat
c.       BB stabil atau bertahan
Intervensi:
Intervensi
Rasional
1.      Kaji kebiasaan makan yang disukai klien
2.      Pantau input dan output pada klien
3.      Ajarkan untuk makan sedikit tapi sering
4.      Kolaborasi dengan ahli gizi
1.      Kebiasaan makan yang disukai dapat meningkatkan nafsu makan
2.      Untuk memantau status nutrisi pada klien
3.      Mempertahankan status nutisi pada klien agar dapat meningkat atau stabil.
4.      Ahli gizi dapat menentukan makanan yang tepat untuk meningkatkan kebutuhan nutrisi pada klien.










4.        Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah gangguan perepsi sensori pendengaran dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
a.      Klien dapat memfokuskan pendengaran
b.      Tidak terjadi tinitus yang berkelanjutan
c.       Pendengaran adekuat
Intervensi:
Intervensi
Rasional
1.      Kaji tingkat pendengaran pada klien
2.      Lakukan tes rinne, weber, atau swabah untuk mengetahui keseimbangan pendengaran saat terjadi tinitus
3.      Ajarkan untuk memfokuskan pendengaran saat terjadi tinitus
4.      Kolaborasi penggunaan alat bantu pendengaran
1.      Mengetahui tingkat kemaksimalan pendengaran pada klien untuk menentukan terapi yang tepat. 
2.      Mengetahui keabnormalan yang terjadi akibat tinitus
3.      Mempertahankan keadekuatan pendengaran
4.      Memaksimalkan pendengaran pada klien

5.        Koping individu tidak efektif b.d metode koping tidak adekuat
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah koping individu tidak efektif dapat teratsi.
Kriteria Hasil :
a.      Klien dapat menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan pendengaran
b.      Klien dapat mengatasi dengan tindakan mandiri





Intervensi:
Intervensi
Rasional
1.      Kaji kemampuan klien dalam mempertahankan keadekuatan pendengaran
2.      Berikan motivasi dalam menerima keadaan fisiknya
3.      Ajarkan cara mengatasi masalah pendengaran akibat pusing yang diderita
4.      Kolaborasi pemberian antidepresan sedatif, neurotonik, atau transquilizer serta vitamin dan mineral.
1.      Mengetahui batas maksimal kemampuan pendengaran klien
2.      Klien tidak mengalami depresi akibat keadaan fisiknya
3.      Pusing yang terjadi dapat memunculkan tinitus
4.      Obat untuk mengatasi tinitus.

















DAFTAR PUSTAKA

Lynda Juall carpernito.2007. Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan, Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, ed. 7, EGC, Jakarta.

Muttaqin, Arif. (2008). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika

Sanders, Valeria C. Scanlon Tina. (2006). Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi, edisi 3. Jakarta: EGC
Amar A, Suryamihardja A, Dewati E, et all, 2012. Neuritis Vestibularis.Pedoman tatalaksana vertigo.

Kusumastuti K, 2011, Vertigo. Buku ajar Ilmu Penyakit Saraf. Departemen Ilmu Penyakit Saraf Universitas Airlangga Surabaya

Marill KA, 2013. Vestibular Neuronitis, Department of Emergency Medicine, Massachusetts General Hospital. Vestibular Neuronitis Updated: Jun 27, 2013

31 komentar:

  1. thanks for sharing your info, i'm so lucky can find this article.. waiting for next article.. good job. success always

    OBAT BATUK
    OBAT KOLESTEROL
    OBAT ASMA
    OBAT AMBEIEN

    BalasHapus
  2. Thank you for the information gan, may be useful for all of us.
    Greetings from us:
    Links We wish Beneficial For Information About Health.

    Obat Herbal Gagal Ginjal Kronik
    Cara Mengobati Kanker Payudara Secara Alami dan Aman
    Obat Herbal Kanker Darah
    Cara Mengobati Penyakit Tbc
    Obat Herbal Glaukoma Terampuh

    We Wait Further Information gan ....

    BalasHapus
  3. Intinya GEJALA SINUSITIS Ini Dapat Terjadi Pada Pria Maupun Wanita Diberbagai Usia. Untuk Itu Jangan Remehkan GEJALA SINUSITIS. Metode Pengobatan Herbal Biasanya Menjadi Alternatif Dalam Penyembuhan GEJALA SINUSITIS, Karena dengan pengobatan herbal GEJALA SINUSITIS Ini Akan Terobati Tanpa Dengan Disertai Efek Samping Yang Berbahaya. Dengan Keunggulan Inilah Yang Membuat Pengobatan Herbal Menjadi Alternatif Dalam Mengobati GEJALA SINUSITIS Secara Alami. Untuk Itu Atasi GEJALA SINUSITIS Sekarang Juga Sebelum GEJALA SINUSITIS Ini Menjadi Berbahaya

    BalasHapus
  4. The latest information we are waiting for lho..semoga what is given can be useful
    Terimakash..success always everything..salam know

    obat kista coklat tradisional
    obat darah rendah tradisional ampuh

    BalasHapus
  5. Sites like these I'm looking for
    Thanks for the information, in tunggua keep the latest news

    pedia herbal
    obat infeksi paru paru manjur
    obat ginjal kronis tradisional

    BalasHapus
  6. Thanks for information . I really like your article
    http://rizkyherbal.com/obat-tbc-herbal-di-apotik/
    http://rizkyherbal.com/obat-kanker-usus-besar-stadium-4-alami/

    BalasHapus
  7. Good luck ,, in waiting for other information from your site

    ciri ciri kista ovarium
    ciri ciri ginjal kronis

    BalasHapus